Perayaan Idulfitri 1447 Hijriyah diperkirakan berdekatan dengan Hari Raya Nyepi 2026. Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi mengajak warga menjaga toleransi agar dua momentum keagamaan ini berlangsung damai dan saling menghormati.
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi memberikan imbauan khusus terkait pentingnya menjaga toleransi antarumat beragama di Kota Pahlawan.
Hal tersebut disampaikan menyusul momentum perayaan Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriyah yang diperkirakan jatuh berdekatan dengan Hari Raya Nyepi pada pertengahan Maret 2026.
Menurut Eri, kunci utama dalam menghadapi dua hari besar keagamaan yang berlangsung hampir bersamaan tersebut adalah sikap saling menghormati antarumat beragama.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa umat Islam tetap diperbolehkan menjalankan aktivitas seperti takbir dan kegiatan silaturahmi sebagaimana tradisi Idulfitri pada umumnya.
“Jadi memang kalau di Surabaya ya tetap akan ada seperti takbir atau kegiatan-kegiatan silaturahmi. Tapi kita tetap akan menghormati warga Surabaya yang memang beragama Hindu, begitu sebaliknya agama Hindu juga menghormati warga Surabaya yang Muslim,” kata Eri, Selasa (10/3/2026).
Takbiran Diminta Tidak Digelar di Sekitar Pura
Meski aktivitas Idulfitri tetap berjalan, Eri mengingatkan warga Muslim agar tidak mengganggu kekhusyukan umat Hindu yang sedang menjalankan ibadah Nyepi.
Ia meminta kegiatan takbiran keliling tidak dilakukan di sekitar pura atau kawasan tempat ibadah umat Hindu.
“Jadi kalau ada Nyepi yang ada di sekitar pura, maka nanti insyaallah takbiran keliling ojo (jangan) di sekitar pura. Tapi bisa di tempat yang lainnya karena kita saling menghormati,” tegasnya.
Pemkot Surabaya Diminta Ikut Menjaga Ketenangan
Eri juga mengajak seluruh masyarakat menjadikan momentum ini sebagai bukti nyata bahwa Surabaya menjunjung tinggi kerukunan antarumat beragama.
Ia bahkan menginstruksikan jajaran Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya untuk ikut menjaga ketenangan di wilayah yang terdapat pura maupun kawasan permukiman warga Hindu.
“Kalau Nyepi kan tidak boleh ada kegiatan, mematikan lampu, tidak boleh ada keramaian. Maka kita akan menghormati dan kita akan menjaga dengan teman-teman pemerintah kota di wilayah sekitar pura dan tempat warga Hindu bermukim,” pungkasnya.***





