Kota Surabaya terpilih sebagai pilot project aplikasi Perlinsos digital berbasis AI. Sistem ini mampu memutus kelayakan penerima bansos dalam 15 hingga 45 menit, memangkas proses manual yang sebelumnya memakan waktu tiga bulan.
Pemerintah Kota Surabaya menjadi salah satu lokasi uji coba aplikasi Perlindungan Sosial digital berbasis kecerdasan buatan. Uji coba bertempat di Kelurahan Pakis, Jalan Dukuh Kupang Timur, sebagai bagian dari reformasi pelayanan publik untuk memastikan bansos tepat sasaran.
Sekretaris Jenderal Kementerian Sosial Robben Rico menjelaskan, Surabaya merupakan kelanjutan dari piloting pertama di Banyuwangi. Total ada 42 kabupaten/kota yang menjadi lokasi uji coba transisi digitalisasi ini.
“Kalau proses manual yang lama, rantai birokrasinya sangat panjang. Harus diusulkan berjenjang dari RT, RW, Kelurahan, Kecamatan, ditetapkan Kepala Daerah, baru dikirim ke Kemensos. Itu memakan waktu sampai 3 bulan,” ujar Robben Rico, Sabtu (13/6/2026).
Dengan sistem digital berbasis AI, Robben menyebut pendaftaran bisa dipangkas drastis. “Untuk menganalisis dan memutuskan apakah seseorang layak atau tidak menerima bantuan, sistem hanya butuh waktu 15 hingga 45 menit,” tegasnya.
Perubahan sistem ini didasarkan pada temuan Dewan Ekonomi Nasional yang menunjukkan banyak penyaluran bansos tidak tepat sasaran akibat subjektivitas di lapangan. Keputusan kelayakan kini sepenuhnya diambil sistem berdasarkan data objektif.
Integrasi Data Lintas Lembaga
Direktur Jenderal Komunikasi Publik dan Media Kementerian Komdigi Fifi Aleyda Yahya menegaskan, digitalisasi ini bukan sekadar migrasi data. “Ini adalah perbaikan tata kelola untuk memperkuat akurasi, meningkatkan transparansi, dan memastikan bantuan tepat sasaran,” katanya.
Komdigi bertugas memadukan data dari berbagai kementerian dan lembaga sebagai bahan verifikasi. Data yang diintegrasikan meliputi Dukcapil, Kementerian ATR/BPN, Samsat, Korlantas, BPJS, dan lembaga terkait lainnya.
Kepala Dinas Sosial Kota Surabaya Antiek Sugiharti mengungkapkan, pihaknya telah menyiapkan lebih dari 12.000 agen pendamping warga. “Bagi yang tidak memiliki perangkat, di sinilah peran agen yang kami siapkan untuk membantu masyarakat di lapangan,” ujarnya.





