ITS Amankan Dana Riset Sawit Terbesar, Siap Dorong Transformasi Industri Berkelanjutan

Kepala Divisi Penyaluran Dana Riset Arfie Thahar menjelaskan ketentuan & aturan yang berlaku pada pelaksanaan penelitian termasuk pelaporan lewat aplikasi program riset BPDP. -- Humas ITS
Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) meraih pendanaan riset sawit terbanyak 2025 dari BPDP Sawit, tembus Rp10 miliar.

Institut Teknologi Sepuluh Nopember menegaskan posisinya sebagai pusat inovasi teknologi nasional setelah kembali menjadi penerima pendanaan terbesar dalam Grant Riset Sawit (GRS) 2025 yang diselenggarakan BPDP Sawit. Total dana riset lebih dari Rp10 miliar diamankan untuk pengembangan lima teknologi strategis di sektor kelapa sawit.

Capaian ini memperpanjang dominasi ITS sebagai penerima dana riset sawit terbesar selama tiga tahun berturut-turut dalam skema GRS. Pendanaan tersebut diarahkan untuk menjawab tantangan industri sawit, mulai dari efisiensi produksi, keselamatan kerja, hingga penguatan aspek lingkungan.

Lima riset unggulan ITS dirancang untuk mendorong hilirisasi industri sawit berbasis teknologi tinggi dan berorientasi keberlanjutan. Teknologi yang dikembangkan tidak hanya berhenti di laboratorium, tetapi disiapkan untuk penerapan langsung di lapangan.

Bacaan Lainnya

Salah satu inovasi utama adalah Gerobak Crawler Bertenaga Listrik DC karya tim Dr Lila Yuwana dari Departemen Fisika. Alat ini dirancang untuk membantu pengangkutan tandan buah segar (TBS) di medan ekstrem perkebunan rakyat dengan sistem roda rantai dan tenaga listrik ramah lingkungan.

Menurut Lila, teknologi tersebut bertujuan mengurangi beban kerja fisik petani sekaligus menekan emisi karbon di sektor perkebunan. “Harapannya, produktivitas perkebunan sawit bisa lebih meningkat tanpa mengorbankan aspek lingkungan nantinya,” ujarnya, Minggu (1/2/2026).

Inovasi berikutnya dikembangkan oleh Moch Solichin PhD dari Departemen Teknik Mesin melalui penerapan Digital Twin multifungsi. Teknologi ini memungkinkan pemantauan kematangan buah sawit dan kinerja mesin secara real-time untuk mendukung efisiensi dan keandalan produksi.

“Dengan Digital Twin, pelaku industri dapat mengambil keputusan berbasis data aktual, baik untuk menentukan waktu panen maupun perawatan mesin,” jelas Solichin.

Pada sektor pemetaan dan prediksi produksi, Hepi Hapsari PhD dari Departemen Teknik Geomatika bersama Dr Kelly Rossa dari Departemen Teknik Informatika mengembangkan sistem estimasi produksi sawit berbasis drone multispektral, sensor Volatile Organic Compound (VOC), dan citra satelit.

Pos terkait