Dindik Jatim Cetuskan 5 Gerakan Mengurangi Sampah Plastik di Sekolah

Sekolah tanpa plastik bukan sekadar aturan, melainkan pelajaran sunyi tentang cara hidup yang lebih bertanggung jawab—dimulai dari kebiasaan kecil, diulang setiap hari. - Ilustrasi AI Generate
Di tengah krisis sampah nasional yang kian menggunung, sekolah-sekolah di Jawa Timur kembali diposisikan sebagai ruang awal pembelajaran ekologis—dari kebiasaan sederhana mengurangi plastik sekali pakai.

Dinas Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur menggalakkan kembali gerakan pengurangan bahan plastik di lingkungan sekolah. Langkah ini ditegaskan melalui imbauan Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur Nomor 000.5/443/101.1/2026 sebagai bagian dari upaya menekan timbunan sampah sekaligus membangun kesadaran lingkungan sejak dini.

Kepala Dindik Jatim, Aries Agung Paewai, mengatakan penggunaan plastik sekali pakai yang tidak dikelola dengan baik akan menjadi beban jangka panjang bagi lingkungan. Menurutnya, gerakan ini tidak sekadar kampanye sesaat, melainkan investasi nilai bagi generasi muda.

“Kami ingin langkah ini meminimalisir sampah plastik. Penggunaan sekali pakai sulit terurai oleh bumi, dan kami berharap ini menjadi warisan bagi anak-anak untuk mencintai lingkungan yang sehat,” ujar Aries, Minggu (1/2/2026).

Bacaan Lainnya
Kepala Dindik Jatim Aries Agung Paewai. — Samudrafakta

Dorongan tersebut berangkat dari kondisi pengelolaan sampah nasional yang masih timpang. Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup menunjukkan timbunan sampah Indonesia mencapai 55.474,16 ton per hari. Dari jumlah itu, baru sekitar 35 persen yang berhasil dikelola.

Angka tersebut, menurut Aries, menuntut peran aktif dunia pendidikan. Sekolah diharapkan tidak hanya menjadi tempat belajar akademik, tetapi juga ruang pembentukan kebiasaan hidup berkelanjutan. Terlebih, plastik berlebihan berkontribusi pada pencemaran tanah dan air, kerusakan ekosistem laut, hingga banjir akibat saluran tersumbat.

Karena itu, Dindik Jatim meminta kepala sekolah mengimbau siswa dan pengelola kantin agar beralih ke bahan ramah lingkungan. Imbauan ini ditujukan kepada seluruh warga sekolah—dari murid hingga guru—untuk meninggalkan penggunaan bahan sekali pakai.

Sebagai panduan, Dindik Jatim merumuskan lima langkah utama: menggunakan alat makan berulang pakai, membawa tumbler dan sedotan pribadi, memakai tas kain untuk belanja di sekolah, mengurangi plastik dan styrofoam di kantin, serta menjadikan kepala sekolah dan guru sebagai teladan.

“Kesadaran lingkungan tidak cukup diajarkan, tapi harus dicontohkan,” kata Aries. Ia berharap kebijakan ini membentuk budaya baru di sekolah—budaya yang menempatkan kepedulian terhadap bumi sebagai bagian dari proses belajar itu sendiri.***

Pos terkait