Mengapa Wanita Lebih Rentan
Kerentanan perempuan terhadap ISK bukan sekadar asumsi. Data dari National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK) mencatat bahwa lebih dari 50 persen wanita akan mengalami ISK setidaknya sekali dalam hidup mereka.
Faktor anatomi menjadi penjelasan utama. Uretra yang lebih pendek mempercepat perjalanan bakteri menuju kandung kemih. Selain itu, aktivitas seksual juga berperan, karena dapat mendorong bakteri masuk ke uretra. Itulah sebabnya ISK kerap muncul berulang pada sebagian perempuan, terutama jika kebersihan dan pola hidup tidak terjaga.
Namun laki-laki bukan berarti bebas risiko. Pada pria usia lanjut, pembesaran prostat dapat menyebabkan urine tertahan di kandung kemih. Retensi urine ini menciptakan lingkungan ideal bagi bakteri untuk berkembang.
Faktor Risiko yang Sering Diabaikan
Secara umum, ISK terjadi ketika bakteri dari luar tubuh masuk ke saluran kemih melalui uretra. Beberapa kondisi diketahui meningkatkan risiko infeksi.
Penggunaan kateter urine, misalnya, dapat menjadi pintu masuk langsung bagi bakteri ke kandung kemih. Batu ginjal juga berperan, karena menghambat aliran urine dan memungkinkan bakteri berkembang biak.
Sistem kekebalan tubuh yang lemah—akibat diabetes, kemoterapi, atau penyakit kronis lain—menjadikan tubuh kurang mampu melawan infeksi. Dalam kondisi ini, ISK lebih mudah terjadi dan lebih cepat menjadi berat.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menambahkan dua faktor yang kerap diremehkan: kebersihan diri yang buruk dan kurangnya asupan cairan. Kurang minum menyebabkan urine menjadi lebih pekat dan jarang keluar, sehingga bakteri tidak terbilas secara optimal.
Antara Gejala Ringan dan Bahaya Nyata
ISK sering dimulai dengan tanda-tanda kecil: sering ingin buang air kecil, rasa nyeri, atau urine yang berubah warna. Karena dianggap ringan, banyak orang menunda pemeriksaan medis. Padahal, penundaan inilah yang membuka jalan bagi infeksi menyebar ke ginjal atau bahkan memicu komplikasi serius.
Kasus Inul Daratista menjadi pengingat bahwa tubuh kerap memberi sinyal lebih awal. Mengabaikannya berarti memberi waktu bagi infeksi untuk tumbuh lebih dalam.***





