Meski program dari pemerintah telah tersedia gratis dan terstruktur, pemahaman masyarakat mengenai Hepatitis B dinilai masih sangat rendah.
“Banyak orang baru menyadari infeksi ketika sudah muncul gejala penyakit kuning. Padahal pada fase awal virus kerap bersifat tanpa gejala (asimptomatis) dan sesungguhnya empat kali lebih infeksius dibandingkan HIV,” paparnya.
Tantangan terberat lainnya di lapangan adalah maraknya stigma sosial serta kendala edukasi dalam unit keluarga. Ketidaktahuan mengenai cara penularan membuat penderita kerap dikucilkan, sementara intervensi keluarga besar tak jarang memicu keengganan untuk vaksinasi.
“Stigma sosial sering kali lebih menyakitkan daripada penyakitnya itu sendiri. Oleh karena itu, pendekatan pencegahan tidak bisa berdiri sendiri, melainkan harus melibatkan tokoh masyarakat dan tokoh agama yang didengar oleh warga,” tegasnya.
Memaknai momentum Hari Hepatitis Sedunia, Dr Dewi berpesan agar dukungan keluarga dan pemangku kepentingan menjadi garda terdepan dalam menyukseskan program kesehatan nasional.
“Masyarakat tidak perlu takut untuk skrining dan vaksinasi. Semakin cepat status kesehatan diketahui, semakin cepat pula penanganannya. Kesadaran bersama adalah kunci utama menuju target Zero Hepatitis 2030,” pungkasnya. ***





