Banjir Rob di Kalianak Makin Sering, Dosen Unair Soroti Dampak Pemanasan Global dan Penurunan Tanah

Banjir rob Kalianak
Ilustrasi banjir rob. - Wastec Internasional
Banjir rob yang kembali menggenangi kawasan Kalianak, Surabaya, dipicu kombinasi fenomena pasang air laut, pemanasan global, dan penurunan muka tanah (land subsidence). Kondisi tersebut dinilai meningkatkan frekuensi dan dampak banjir di wilayah pesisir.

Dosen Program Studi Magister Manajemen Bencana Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga (Unair), Dr. Hijrah Saputra, S.T., M.Sc., mengatakan banjir rob di Kalianak pada dasarnya merupakan fenomena alam akibat siklus pasang surut air laut.

“Pasang surut dipengaruhi gravitasi bulan dan matahari yang terjadi secara alami. Kalianak berada di kawasan muara yang memang termasuk zona rawan sehingga mudah tergenang saat air laut pasang,” kata Hijrah, Senin (27/7/2026).

Namun, menurutnya, persoalan yang lebih mengkhawatirkan adalah dampak perubahan iklim yang memicu kenaikan muka air laut.

Bacaan Lainnya

“Pemanasan global menyebabkan kenaikan muka air laut sekitar 0,3 hingga 0,6 sentimeter per tahun secara akumulatif,” ujarnya.

Selain itu, penurunan muka tanah di wilayah timur dan utara Surabaya akibat eksploitasi air tanah juga memperparah kondisi. Perubahan tata guna lahan di kawasan hulu hingga pesisir Kalianak turut mengurangi daya resap tanah sehingga genangan lebih mudah terjadi.

Hijrah menyebut banjir rob kini tidak lagi bersifat sesekali, tetapi semakin sering terjadi dengan durasi lebih lama.

“Sekarang banjir rob dapat terjadi lima hingga enam kali dengan ketinggian sekitar 30 sampai 40 sentimeter. Kondisi ini menjadi ancaman yang cukup serius,” katanya.

Ia juga menyoroti kapasitas drainase yang terus menurun akibat sedimentasi pasir, lumpur, dan tanah yang mengendap di saluran air. Penumpukan sampah di saluran maupun kawasan pesisir turut mempercepat proses pendangkalan sehingga aliran air semakin terhambat.

Mitigasi Jangka Pendek dan Panjang

Hijrah menilai penanganan banjir rob harus dilakukan melalui mitigasi struktural dan nonstruktural.

Mitigasi struktural dapat dilakukan dengan pengerukan sedimentasi saluran sedikitnya dua kali dalam setahun, revitalisasi drainase berbasis konsep ekodrainase, pembangunan zona pengendapan lumpur di bagian hulu, perbaikan tanggul, pemasangan pintu air otomatis (flat gate), serta pembangunan polder atau kolam retensi di kawasan rendah seperti Kalianak.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan