Indonesia Zero Hepatitis 2030, Pakar Unair: Putus Rantai Penularan dari Ibu ke Anak

Indonesia Menuju Zero Hepatitis 2030
Pakar Kesehatan Ibu dan Anak Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Airlangga (Unair), Dr Dewi Setyowati SKeb Bd MKed Trop. - Humas Unair
Pakar Unair menyebut pemutusan penularan Hepatitis B dari ibu ke anak menjadi kunci mencapai Zero Hepatitis 2030. Skrining gratis dan vaksinasi dinilai sangat penting.

Peringatan Hari Hepatitis Sedunia menjadi pijakan krusial untuk meninjau kembali kesiapan Indonesia dalam mencapai target Zero Hepatitis 2030. Pakar Kesehatan Ibu dan Anak Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Airlangga (Unair), Dr Dewi Setyowati SKeb Bd MKed Trop menggarisbawahi bahwa kunci keberhasilan agenda nasional ini terletak pada pemutusan rantai penularan dari ibu ke anak.

Menurut Dewi, terobosan medis dan fasilitas pemeriksaan gratis dari pemerintah tidak akan berjalan maksimal tanpa diimbangi peningkatan literasi serta penghapusan stigma di tengah masyarakat.

Bacaan Lainnya

Dewi memaparkan bahwa langkah pencegahan telah dimulai sejak pra-kehamilan lewat program Triple Eliminasi gratis di puskesmas untuk mendeteksi Hepatitis B, HIV, dan Sifilis pada calon pengantin serta ibu hamil.

“Program wajib ini memastikan jika calon ibu positif, puskesmas akan langsung berkoordinasi dengan dinas kesehatan dan rumah sakit rujukan untuk menyiapkan langkah perlindungan lanjutan bagi sang bayi,” terangnya, Rabu (29/7/2026).

Saat proses persalinan, bayi yang lahir dari ibu berstatus positif akan secara otomatis mendapatkan perlindungan ganda. Langkah ini menjadi sangat krusial mengingat infeksi Hepatitis B hingga saat ini belum memiliki obat yang dapat menyembuhkan secara total, melainkan hanya menekan replikasi virus.

“Selain imunisasi wajib dasar Hepatitis 0 yang diberikan pada usia 0–7 hari, bayi juga langsung memperoleh suntikan tambahan berupa Hepatitis B Immunoglobulin (HBIG),” jelasnya.

Efektivitas vaksinasi HB0 pada minggu pertama kehidupan bayi ini dinilai sudah mencapai 90 persen dalam memberikan perlindungan dari virus.

“Penambahan imunoglobulin bertujuan agar imun bayi semakin cepat mengenali virus. Perlindungan ganda ini menjadi langkah krusial agar mata rantai penularan dari ibu ke bayi benar-benar terputus, sehingga generasi berikutnya memiliki kualitas hidup yang optimal,” jelas Dosen Prodi Kebidanan FK Unair tersebut.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan