Mahasiswa FKM Universitas Airlangga menciptakan inovasi robot pendeteksi stunting dengan biaya perakitan terjangkau. Purwarupa ini telah memegang hak cipta resmi.
Mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga Kaysan Najib Murtaza menggagas robot pendeteksi stunting. Inovasi bernama Kendali Stunting Anak Terintegrasi Robotika ini menekan biaya pengukuran gizi.
Mengenai awal pengembangannya, purwarupa tersebut mulai digagas secara serius sejak tahun 2024. Kaysan menyoroti mahalnya biaya pengukuran kondisi anak sehingga terdorong menciptakan alat deteksi yang lebih terjangkau.
“Makanya aku bikin robot itu dan fakta menariknya robotnya hanya senilai Rp500.000 saja. Itu bisa buat deteksi dini stunting untuk satu posyandu yang mana itu lebih dari 40 anak,” kata Kaysan Najib Murtaza pada Rabu, 9 September 2026.
Sistem Sensor dan Hak Cipta
Sistem kerja robot ini mengandalkan peranti Arduino dan sensor ultrasonik untuk memindai dimensi fisik anak. Data tersebut kemudian dikalkulasi menggunakan rumus laju metabolisme basal guna menyusun rekomendasi asupan makanan.
Menyangkut uji kelayakan, purwarupa ini telah diuji oleh badan riset daerah di Kabupaten Batang dan Provinsi Jawa Tengah. Kementerian Hukum Republik Indonesia juga resmi menerbitkan hak cipta atas produk ini pada 6 Maret 2026.
Saat ini, pemanfaatan alat pelacak kesehatan tersebut telah tersebar di sejumlah titik di Kota Surakarta dan Kabupaten Batang. Inovasi mahasiswa gizi ini diklaim mampu melayani pemantauan tumbuh kembang puluhan anak setiap bulan.
Validasi Keilmuan Medis
Terkait validasi medisnya, Kaysan melibatkan jajaran dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat untuk mendampingi penyempurnaan sistem alat tersebut. Bimbingan keilmuan ini memastikan hasil kalkulasi gizi sejalan dengan standar medis.
“Beliau-beliau ini yang membimbing aku dari sisi keilmuan kesehatannya, agar robot yang aku ciptakan itu valid secara medis dan tidak hanya sekadar canggih di atas kertas,” kata Kaysan Najib Murtaza.***





