Siswi Karo Dilaporkan Gangguan Ingatan Seusai Insiden MBG

Korban FP dipeluk ibunya.(Istimewa)

Siswi berusia 16 tahun telah dirawat berulang kali sejak keracunan massal pada 13 Agustus. Belum ada penjelasan medis mengenai penyebab gangguan ingatannya.

Seorang siswi berusia 16 tahun di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, dilaporkan mengalami gangguan ingatan 27 hari setelah menjadi korban dugaan keracunan Makan Bergizi Gratis.

Pelajar berinisial FP itu disebut tidak lagi mengenali sejumlah anggota keluarga, guru, maupun teman sekolahnya. Ia juga mengalami kejang dan kesulitan berbicara setelah beberapa kali menjalani perawatan di rumah sakit.

Anggota Komisi IX DPR Nurhadi mengungkapkan perkembangan kondisi korban tersebut pada Rabu, 9 September 2026. Menurut dia, penanganan korban tidak boleh berhenti ketika gejala akut mereda.

Bacaan Lainnya

“Seluruh korban harus mendapatkan pemeriksaan dan pengobatan secara tuntas, termasuk pemantauan dampak kesehatan jangka panjang, bukan hanya sampai gejala akutnya hilang,” kata Nurhadi dalam keterangan tertulis.

Meski muncul setelah insiden MBG, belum ada penjelasan dokter yang memastikan penyebab gangguan ingatan FP. Hubungannya dengan keracunan makanan, komplikasi lain, atau kondisi medis berbeda masih memerlukan pemeriksaan lanjutan.

Dirawat Berulang Kali

Ibu korban, Elvinus Lusiana, mengatakan FP telah menjalani perawatan di lima rumah sakit serta diperiksa dokter spesialis gastroenterologi anak, neurologi, dan psikiatri.

FP sempat dirawat selama tiga hari setelah mengalami pusing, gatal, muntah, dan kehilangan kesadaran pada 13 Agustus. Ia kembali masuk rumah sakit setelah mengalami kejang dan dirawat sekitar sepekan.

Menurut Elvinus, kejang kembali terjadi pada 5 September 2026. Kondisi FP juga belum menunjukkan banyak perbaikan dan membuatnya belum dapat kembali bersekolah.

Tiga Bakteri Ditemukan

Hasil pemeriksaan Unit Pelaksana Teknis Daerah Laboratorium Kesehatan Sumatera Utara tertanggal 16 Agustus 2026 menemukan tiga jenis bakteri pada makanan yang disajikan kepada siswa.

Bacillus cereus ditemukan pada sampel nasi, Staphylococcus aureus pada ikan tongkol, dan Escherichia coli pada melon. Staphylococcus aureus juga ditemukan pada sampel muntahan salah seorang korban.

Temuan itu menguatkan dugaan kontaminasi makanan. Namun, hasil laboratorium yang diumumkan belum menjelaskan hubungan temuan bakteri tersebut dengan gangguan ingatan yang dialami FP.

Kepala Badan Gizi Nasional Sudaryono sebelumnya mengatakan pemeriksaan awal menemukan sebagian ikan tidak disimpan dalam lemari pembeku. Sekitar 200–300 potong ikan disebut dibiarkan tanpa pendingin selama kurang lebih 12 jam.

BGN kemudian menghentikan operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi yang memasok makanan tersebut dan mencopot kepala dapurnya.

Nurhadi meminta audit mencakup seluruh rantai produksi, mulai dari pemilihan bahan, proses memasak, penyimpanan, pengangkutan, hingga makanan dikonsumsi siswa.

“Harus dilakukan audit total terhadap SPPG, mulai dari pemilihan bahan baku, proses memasak, penyimpanan, distribusi, transportasi, hingga makanan diterima dan dikonsumsi siswa,” ujarnya.

Sebanyak 354 Orang Ditangani

Rekapitulasi Pemerintah Kabupaten Karo pada 14 Agustus 2026 pukul 16.00 WIB mencatat 354 orang mendapatkan penanganan medis. Sebanyak 110 orang dirawat inap, 242 dipulangkan, dan dua pasien dirujuk.

Empat dari sekitar 40 perwakilan orang tua korban kemudian membuat laporan pengaduan ke Polres Karo pada 31 Agustus 2026. Mereka meminta penyebab kejadian dan dugaan kelalaian diusut secara transparan.

Secara nasional, data surveilans Kementerian Kesehatan hingga 2 September 2026 mencatat 50.059 orang terdampak dalam 560 kejadian keracunan terkait MBG. Kasus tersebar di 36 provinsi serta 245 kabupaten dan kota.

Data tersebut belum mencakup kejadian yang dilaporkan setelah 2 September. BGN juga belum memublikasikan jumlah korban yang masih menjalani pemantauan kesehatan setelah dipulangkan.

“Pemerintah juga harus membuka hasil investigasi secara transparan kepada orang tua korban maupun masyarakat,” kata Nurhadi.***

Pos terkait

Tinggalkan Balasan