Dinkes Surabaya menemukan lalat, sanitasi buruk, dan risiko kontaminasi silang di dapur SPPG Tembok Dukuh setelah 210 orang keracunan menu MBG.
Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surabaya mengungkap hasil investigasi terkait kasus keracunan massal yang menimpa 210 siswa dan guru usai mengkonsumsi menu Makan Bergizi Gratis (MBG) pada Senin (11/5/2026) lalu.
Dalam rapat dengar pendapat (hearing) yang digelar Komisi D DPRD Kota Surabaya, Rabu (13/5/2026), Dinkes menemukan adanya lalat, sanitasi buruk, hingga daging dalam kondisi beku dan tidak ditempatkan di tempat steril di dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bubutan, Tembok Dukuh, yang menyuplai menu MBG ke belasan sekolah yang mengalami keracunan massal.
Kepala Dinkes Kota Surabaya dr Billy Daniel Messakh, mengatakan hasil temuan tersebut didapat usai pihaknya melakukan pemeriksaan di area SPPG Tembok Dukuh setelah terjadinya insiden.
“Kami melihat ada beberapa kejanggalan dalam pemrosesan (makanan), daging dalam keadaan masih beku dan tidak berada di tempat yang bersih (steril), serta ditemukan cukup banyak lalat,” ungkap Billy.
Kejanggalan lain yang ditemukan, proses thawing atau pencairan daging dilakukan pada suhu ruang selama kurang lebih 2 jam dengan perendaman dan aliran air. Kondisi ini dinilai berisiko meningkatkan pertumbuhan bakteri.
Dinkes Surabaya juga menemukan jeda lama pada proses perebusan hingga pemasakan akhir daging, serta penyimpanan makanan matang yang bercampur dengan bahan mentah di chiller (pendingin).
Pada aspek sanitasi, SPPG di wilayah tersebut ternyata belum mengantongi Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS).
Temuan ini sekaligus mematahkan klaim sebelumnya dari pihak SPPG yang menyatakan telah memiliki sertifikasi lengkap.
“SPPG Bubutan Tembok Dukuh sampai saat investigasi belum memiliki Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS), sebagaimana dipersyaratkan dalam ketentuan penyelenggaraan Program Makan Bergizi Gratis,” kata Billy.
Dinkes menemukan lalat di beberapa area dapur produksi dan akses terbuka yang memungkinkan masuknya vektor pembawa penyakit. Insect trap juga dilaporkan belum berfungsi optimal.





