Ketua MPR Ahmad Muzani memastikan semua juri diganti. Sementara siswi yang jawabannya disalahkan itu sedang menerima motivasi dari Wapres di Istana.
Rabu (13/5/2026) menjadi hari yang penuh ironi bagi Josepha Alexandra. Siswi SMAN 1 Pontianak itu duduk di Istana Wakil Presiden, menerima motivasi dari Gibran Rakabuming Raka. Sementara di hari yang sama, Ketua MPR RI Ahmad Muzani mengumumkan bahwa final Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar tingkat Provinsi Kalimantan Barat — ajang yang merugikannya empat hari lalu — akan digelar ulang.
“Lomba Cerdas Cermat di tingkat Kalimantan Barat yang final akan kita lakukan ulang pada waktu yang akan segera diputuskan secepatnya,” kata Muzani dalam konferensi pers di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (13/5/2026).
Keputusan itu diambil setelah pimpinan MPR mendengarkan penjelasan dari Sekretaris Jenderal MPR terkait polemik yang mencuat pasca final LCC di Pontianak, Sabtu (9/5/2026). Muzani mengakui ada kekurangan dan kekhilafan dalam penyelenggaraan lomba, khususnya pada sesi rebutan.
Polemik bermula ketika Josepha — akrab disapa Ocha — menjawab pertanyaan soal lembaga yang pertimbangannya wajib diperhatikan DPR saat memilih anggota Badan Pemeriksa Keuangan. Regu C dari SMAN 1 Pontianak itu menjawab: DPR memilih anggota BPK dengan memperhatikan pertimbangan DPD dan pengesahan Presiden. Juri memberikan nilai minus lima. Berselang sebentar, SMAN 1 Sambas menjawab dengan substansi yang sama persis dan mendapat nilai penuh sepuluh poin.
“Jujurly kaget sekali, karena tidak hanya secara substansi, tapi secara kalimat yang dilontarkan Oca dan tim B memiliki kesamaan yang persis,” kata rekan Josepha usai kejadian.
Josepha sempat menginterupsi MC dan menegaskan jawabannya benar. Juri tidak menggubris. Lomba dilanjutkan. SMAN 1 Sambas keluar sebagai juara dan berhak mewakili Kalbar ke tingkat nasional. Video perdebatan itu viral di X, TikTok, Instagram, hingga Reddit.
Juri diganti, pimpinan MPR awasi langsung
Dalam final ulang, Muzani memastikan seluruh juri diganti dengan sosok-sosok independen yang tidak terlibat dalam proses sebelumnya. Sekretaris Jenderal MPR Siti Fauziah menyebut juri baru akan berasal dari kalangan akademisi dan dinas terkait. Pimpinan MPR juga akan mengawasi jalannya lomba dari awal hingga akhir.
Dua juri lama — Dyastasita Widya Budi, Kepala Biro Pengkajian Konstitusi Setjen MPR, dan Indri Wahyuni, Kepala Bagian Sekretariat Badan Sosialisasi MPR — telah dipanggil dan diberi teguran oleh Muzani. Keduanya bersama MC Shindy Lutfiana sebelumnya juga telah dinonaktifkan oleh Sekretariat Jenderal MPR.
Kendati demikian, Josepha menyatakan hingga saat ini belum ada permintaan maaf langsung dari dewan juri kepada dirinya. “Sampai sekarang belum ada sih,” ujarnya.
Digugat ke pengadilan
Polemik ini telah masuk ranah hukum. Advokat David Tobing pada 12 Mei 2026 mendaftarkan gugatan perdata ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dengan nomor register L JKT.PST-12052026HYC. Turut digugat Ketua MPR Ahmad Muzani sebagai tergugat I, Dyastasita sebagai tergugat II, Indri Wahyuni sebagai tergugat III, dan MC Shindy Lutfiana sebagai tergugat IV.
David mendasarkan gugatan pada Pasal 1365 KUHPerdata tentang perbuatan melawan hukum. Ia meminta hakim memerintahkan MPR memberhentikan secara tidak hormat para juri dari jabatan mereka, serta mewajibkan seluruh tergugat meminta maaf terbuka kepada siswa dan guru SMAN 1 Pontianak.
Bertemu Gibran, ditawari beasiswa
Sementara proses hukum dan keputusan institusional bergulir di Jakarta, Josepha dan sembilan rekan setimnya hari ini duduk berhadapan dengan Wapres Gibran Rakabuming Raka di Istana Wakil Presiden. Pertemuan tertutup itu berlangsung sekitar satu jam.
“Ini menjadi suatu harapan dan semangat bagi kami untuk terus melangkah maju dan berkembang. Di dalam tadi kami diberi motivasi sama Pak Wapres untuk terus belajar dan berprestasi,” kata Josepha usai pertemuan.
Gibran juga memberikan tips public speaking dan debat. Sebelumnya, Ketua Komisi II DPR Muhammad Rifqinizamy Karsayuda menawarkan beasiswa pendidikan ke China kepada Josepha.
Ketua Komisi X DPR Hetifah Sjaifudian, yang sejak Selasa (12/5/2026) mendorong tanding ulang, berharap polemik ini tidak mematahkan semangat pelajar. “Kita tentu tidak ingin kejadian seperti ini mengurangi antusiasme anak-anak terhadap kegiatan positif yang selama ini menjadi ruang pembelajaran nilai-nilai demokrasi, kebangsaan, dan kompetisi yang sehat.”
Waktu pelaksanaan final ulang belum ditetapkan. MPR menyatakan akan memutuskannya “secepatnya”.***




