JAKARTA—Bukti-bukti yang menunjukkan jika Presiden pertama Republik Indonesia (RI) Sukarno lahir pada tahun 1902 terus bermunculan. Salah satunya adalah catatan stambuk atau buku induk siswa Hoogere Burgerschool (HBS) Surabaya, yang mencatat jika Sukarno lahir pada 1902, bukan 1901 sebagaimana yang dipahami jumhur masyarakat dan sejarawan.
Sarjana dan penulis asal Jerman, Bernard Dahm, dalam bukunya Sukarno dan Perjuangan Kemerdekaan (1987), mengaku bingung ketika sebagian besar sejarawan dan masyarakat Indonesia menyebut Sukarno lahir pada 6 Juni 1901. Dia bingung, sebab, dalam catatan stambuk siswa HBS Surabaya, Dahm menemukan data jika Sang Proklamator lahir pada 6 Juni 1902.
Sebagai informasi, isi buku Dahm ini merupakan karya disertasinya di Universitas Keil, Jerman, yang ditulis pada tahun 1964. Judul aslinya Sukarnos Kampf in Indonesiens Unabhangigkeit. Dahm juga pernah bertemu Sukarno pada 26 Oktober 1966.

Sukarno tercatat sekolah di HBS di Surabaya selama periode 1916-1921. Ketika itu HBS Surabaya berada di Regentstraat—yang sekarang kini disebut Jalan Kebon Rojo.
Sementara itu, dalam plakat tertanggal 6 Juni 2011 yang ada di Kantor Pos Kebonrojo Surabaya—plakat yang ditandatangai Wali Kota Surabaya waktu itu, Tri Rismahariani—terdapat tulisan: “Di sini tempat bersekolah Dr. Ir. Sukarno, Penggali Pancasila, Proklamator, Presiden pertama RI, ketika di Hogere Burger School (HBS) 1915-1920”.
HBS merupakan sekolah bagi kaum elite di Surabaya. Informasi mengenai sejarah HBS Surabaya ini ditulis oleh Indra Cipta Jaya dan Gayung Kasuma dari Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Tulisan mereka berjudul Hoogere Burgerschool (HBS): Pendidikan untuk Kaum Elite di Surabaya Tahun 1923-1950.
Dalam tulisan itu disebutkan bahwa HBS didirikan oleh Pemerintah Hindia Belanda tahun 1875 di Surabaya, sebagai sekolah menegah umum untuk memperhatikan pendidikan di tanah jajahan dan menyediakan tenaga terdidik.





