K.H. Abdul Muhaimin menyebut Muktamar NU di Jombang sebagai pertaruhan independensi organisasi dari kepentingan ekonomi dan politik praktis.
A’wan Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) K.H. Abdul Muhaimin mengingatkan agar Muktamar Ke-35 NU tidak disusupi kekuatan pemodal atau bohir yang dapat merusak independensi organisasi.
Muktamar akan berlangsung di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, pada 27–31 Agustus 2026. Forum tertinggi NU itu akan membahas arah organisasi sekaligus memilih kepemimpinan baru.
“Muktamar Ke-35 kali ini adalah pertaruhan bagi eksistensi NU sebagai jam’iyah diniyah ijtima’iyah yang dikelola dengan nilai-nilai keulamaan,” kata Muhaimin dalam keterangan tertulis, Senin, 20 Juli 2026.
Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Ummahat, Kotagede, Yogyakarta, itu mengatakan NU tidak boleh semakin terseret ke dalam kepentingan ekonomi-politik praktis. Muktamar, menurut dia, semestinya tidak hanya berfokus pada pergantian kepemimpinan.
Ia meminta peserta menentukan apakah forum tersebut akan mengembalikan NU kepada orientasi nilai atau justru mengulangi persoalan yang muncul pada Muktamar Ke-34 NU di Lampung.
“Atau justru akan mengulangi tragedi Muktamar Lampung,” ujarnya.
Muhaimin menilai NU memiliki posisi strategis dalam menjaga kehidupan keagamaan dan sosial. Karena itu, hilangnya orientasi nilai di tubuh organisasi dinilai dapat berdampak luas terhadap masyarakat.
Kembali ke Khittah 1926
Ihwal lokasi muktamar, Muhaimin menilai Jombang memiliki makna historis karena menjadi tempat lahir dan tumbuhnya perjuangan sejumlah pendiri NU, termasuk K.H. Hasyim Asy’ari dan K.H. Abdul Wahab Hasbullah.
Menurut dia, penyelenggaraan muktamar di Jombang harus menjadi momentum untuk mengembalikan orientasi organisasi kepada Khittah NU 1926. Arah perjuangan itu mencakup dakwah, pendidikan, dan pemberdayaan umat.
“Muktamar Jombang kali ini adalah momen penting mengembalikan kelimbungan NU pada jangkar nilainya,” tutur Muhaimin.
Ia mengingatkan agar warisan nilai para pendiri NU tidak tersisih oleh persaingan kekuasaan. Muktamar diharapkan menghasilkan keputusan yang menjaga NU sebagai organisasi keagamaan dan kemasyarakatan.
Integritas Pemilihan
Selain itu, Muhaimin menyoroti perbedaan sikap antarelite menjelang muktamar. Ia meminta seluruh unsur NU mengutamakan musyawarah dan persaudaraan dalam menyelesaikan perselisihan.





