Deflasi Terjadi 5 Bulan Berturut-turut dan Daya Beli Masyarakat Menurun Imbas Gelombang PHK, Apa yang Terjadi dengan Ekonomi Indonesia?

Ilustrasi daya beli masyarakat yang melemah mengakibatkan terjadinya deflasi selama lima bulan berturut-turut di Indonesia. (Canva AI)

Makanan, minuman, dan tembakau—sebagaimana data BPS—juga menjadi penyumbang deflasi beruntun di Indonesia. Kelompok ini mencatat deflasi 0,59 persen pada bulan September.

BPS juga mencatat jika hampir semua provinsi di Indonesia mengalami deflasi. Hanya 14 provinsi yang malah terjadi inflasi secara bulanan.

“Jika dilihat dari sebaran inflasi bulanan menurut wilayah, sebanyak 24 provinsi dari 38 provinsi di Indonesia mengalami delasi.”

Bacaan Lainnya

Deflasi terdalam, kata Amalia, adalah 0,92 persen month to month yang terjadi di Papua Barat. “Sementara itu inflasi tertinggi terjadi di Maluku Utara, sebesar 0,56 persen month to month.”

Apa Itu Deflasi dan Apa Penyebabnya?

Deflasi adalah istilah ekonomi untuk menyebut situasi di mana terjadi penurunan harga-harga barang dan jasa secara terus menerus dalam jangka waktu tertentu.

Secara sekilas, deflasi tampak menguntungkan, karena harga-harga barang dan jasa jadi lebih terjangkau oleh konsumen. Akan tetapi, menurut ekonom dari Bright Institute, Muhammad Andri Perdana, deflasi yang terjadi sekarang bisa jauh lebih berbahaya.

Deflasi beruntun ini merupakan indikator bahwa pendapatan atau uang di masyarakat sudah semakin langka didapatkan. Artinya, masyarakat yang punya uang makin sedikit.

“Jadi, uang semakin sedikit itu bukan karena masyarakat tidak ingin berbelanja, tetapi karena memang pendapatannya sudah turun. Itu indikasi yang sangat jelas dari kondisi deflasi saat ini,” kata Andri, dikutip dari BBC News Indonesia.

Andri menjelaskan ada beberapa faktor yang menyebabkan kondisi ini terjadi.

Faktor pertama adalah pemutusan hubungan kerja (PHK).

Sebagai informasi, Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) mencatat ada 53.993 tenaga kerja terkena PHK per 1 Oktober 2024.

Sebagian besar orang yang kena PHK itu berasal dari sektor manufaktur. Tiga provinsi dengan angka PHK terbesar adalah Jawa Tengah, Banten, dan Jakarta.

Muhammad Andri Perdana bahkan memprediksi angka PHK hingga akhir tahun ini bisa mencapai lebih dari 70.000 tenaga kerja, dan menimpa hampir semua industri.

Pos terkait