Harga TBS petani swadaya jatuh ke Rp1.800–Rp2.200 per kilogram. Pemerintah diminta segera memperjelas ekspor satu pintu agar pasar tak berspekulasi.
Harga tandan buah segar sawit di tingkat petani swadaya jatuh tajam. Di sejumlah daerah, harganya kini bergerak di kisaran Rp1.800–Rp2.200 per kilogram, mendekati bahkan di bawah biaya produksi petani.
Ketua Umum DPP Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia, Gulat ME Manurung, mengatakan petani tidak menolak rencana ekspor satu pintu melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia atau DSI. Namun, ia meminta pemerintah segera menjelaskan mekanismenya.
“Petani sawit swadaya maupun bermitra mendukung DSI, tetapi harus dijelaskan cepat. Jangan petani dibiarkan jadi korban abu-abunya penjelasan tentang DSI,” kata Gulat di Jakarta, Kamis, 28 Mei 2026.
Petani Swadaya Paling Tertekan
Gulat menyebut petani swadaya menjadi kelompok paling rentan karena tidak memiliki kepastian pembelian seperti petani plasma atau petani bermitra. Ketika informasi pasar kabur, harga di tingkat petani kecil langsung menjadi korban pertama.
Ia mengatakan harga pokok penjualan petani berada di sekitar Rp2.000 per kilogram. Dengan harga TBS yang turun ke Rp1.800 di beberapa daerah, petani tidak lagi sekadar kehilangan margin, tetapi sudah menanggung rugi.
Kondisi ini makin janggal karena harga minyak sawit mentah global tidak sedang jatuh ekstrem. Karena itu, petani menduga penurunan harga lebih banyak dipicu kepanikan pasar, spekulasi, dan ketidakjelasan aturan ekspor satu pintu.
Pasar Menunggu Aturan Jelas
Rencana ekspor satu pintu sebenarnya dimaksudkan untuk membenahi tata kelola sawit. Pemerintah ingin menutup celah manipulasi harga, memperkuat penerimaan negara, dan memastikan ekspor komoditas strategis berjalan lebih terkendali.
Namun, di lapangan, pelaku pasar masih menunggu kepastian. Belum jelas bagaimana mekanisme pembelian, penentuan harga, pembayaran, hingga posisi eksportir dan petani dalam skema baru tersebut.
Ketidakjelasan itulah yang membuat harga TBS petani mudah ditekan. Serikat petani juga memperingatkan risiko monopsoni bila hanya ada satu pintu pembelian tanpa pengawasan harga yang kuat dan transparan.





