JENEWA – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan bahwa 28 petugas kesehatan tewas dalam 24 jam terakhir di Lebanon akibat meningkatnya konflik di wilayah tersebut. Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, menyatakan bahwa situasi ini sangat membatasi penyediaan layanan kesehatan, terutama dalam menangani korban massal.
“Banyak petugas kesehatan yang memilih untuk tidak melapor bertugas karena harus melarikan diri dari area yang dibombardir,” ujar Tedros di Jenewa, Swiss seperti dilaporkan laman Xinhua.
WHO juga menambahkan bahwa pengiriman pasokan medis ke Lebanon akan tertunda karena adanya pembatasan penerbangan. “Pengiriman besar-besaran trauma dan pasokan medis tidak dapat dilakukan pada Jumat,” jelas Tedros.
Sementara itu, Menteri Kesehatan Lebanon, Firas Abiad, melaporkan bahwa sejak konflik antara Hizbullah dan Israel kembali memanas pada Oktober 2023, sudah 1.974 korban jiwa tercatat, termasuk 127 anak-anak dan 261 perempuan. Abiad menambahkan, rumah sakit di Lebanon semakin tertekan karena beberapa di antaranya menjadi sasaran serangan langsung.
Uni Eropa (UE) menyatakan akan mengirimkan bantuan kemanusiaan senilai 30 juta euro untuk Lebanon, di samping 10 juta euro yang telah diumumkan sebelumnya. Bantuan ini disalurkan sebagai tanggapan atas memburuknya situasi kemanusiaan akibat perang.
Serangan Israel Hantam Markas Besar PBB
Pada Rabu (2/10) malam, serangan udara Israel menghantam sebuah gedung apartemen di Beirut, menewaskan sembilan orang, termasuk tujuh anggota Hizbullah. Dilansir Arab News, Kementerian Kesehatan Lebanon mengonfirmasi bahwa serangan tersebut terjadi di dekat markas besar PBB serta kantor perdana menteri dan parlemen. Serangan tanpa peringatan ini adalah salah satu yang jarang terjadi di jantung kota Beirut sejak eskalasi konflik.
Serangan udara Israel dilaporkan menargetkan pejabat senior Hizbullah, Hashem Safieddine, yang dikenal sebagai penerus pemimpin Hizbullah, Hassan Nasrallah. Meski demikian, Reuters belum dapat mengonfirmasi kebenaran informasi ini.
Perang Israel-Hizbullah dan Dampaknya di Gaza
Selain di Lebanon, Israel juga melanjutkan serangan terhadap kelompok militan di Jalur Gaza, yang mengakibatkan puluhan korban jiwa, termasuk anak-anak. Militer Israel mengonfirmasi bahwa sembilan tentaranya tewas dalam pertempuran di Lebanon selatan. Pertempuran antara Israel dan Hizbullah terus berlangsung, dengan serangan lintas batas yang terjadi hampir setiap hari sejak Hizbullah menembakkan roket ke Israel sebagai bentuk solidaritas terhadap Hamas pada 8 Oktober 2023.





