Perawatan Gigi Indonesia Mahal, Pencegahan Kerap Terlambat

Biaya Rawat Gigi di Indonesia
Praktisi kesehatan gigi drg. Zahrah Almira Cita Utami. (Dok. Usmile)

Masalah gigi yang dibiarkan hingga memburuk dapat berujung pada tindakan medis berbiaya besar. Kebiasaan merokok, minum kopi, dan salah memilih produk ikut memperbesar risiko.

Biaya perawatan gigi dapat membengkak ketika masyarakat baru mencari pertolongan setelah keluhan berkembang menjadi masalah serius. Padahal, sebagian gangguan pada gigi dan mulut dapat ditekan melalui perawatan preventif yang dilakukan setiap hari.

Profil Kesehatan Gigi Indonesia 2022 yang diterbitkan Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO memperkirakan total pengeluaran untuk pelayanan kesehatan gigi di Indonesia mencapai USD267 juta pada 2019.

Rata-rata pengeluaran tercatat sekitar USD1 per penduduk. Namun, beban ekonomi yang lebih besar muncul dari hilangnya produktivitas akibat penyakit gigi dan mulut, yang diperkirakan mencapai USD3,21 miliar.

Bacaan Lainnya

Angka tersebut mencakup dampak karies pada gigi susu dan permanen, penyakit periodontal berat, kehilangan seluruh gigi, serta gangguan mulut lainnya.

Praktisi kesehatan gigi Zahrah Almira Cita Utami mengatakan, biaya perawatan sering meningkat karena masyarakat mengandalkan produk perawatan tanpa memperbaiki kebiasaan yang menjadi penyebab utama masalah gigi.

“Banyak pasien yang datang ke saya dan mengeluhkan mengapa belum ada perubahan meskipun sudah menggunakan pasta gigi pencerah,” kata Zahrah, Rabu, 15 Juli 2026.

Menurut dia, noda pada gigi akan sulit hilang apabila seseorang tetap merokok, rutin minum kopi, atau mengonsumsi makanan dan minuman berwarna pekat.

“Kenyataannya, kalau kebiasaan merokok, mengopi, dan makan makanan yang berwarna pekat masih terus dilakukan, noda di gigi akan tetap menempel dengan kuat,” ujarnya.

Pencegahan Menekan Biaya

Keluhan yang tidak segera ditangani dapat berkembang dan membutuhkan prosedur lebih kompleks, mulai dari pembersihan profesional, penambalan, perawatan saluran akar, hingga pencabutan dan pemasangan gigi pengganti.

Karena itu, Zahrah menyarankan langkah sederhana setelah mengonsumsi makanan dan minuman berwarna. Masyarakat dapat berkumur menggunakan air putih untuk mengurangi sisa zat warna yang menempel.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan