Hal tersebut sejalan dengan arah pendidikan di Surabaya yang menempatkan penguatan karakter sebagai bagian dari proses pembelajaran. Febri sebelumnya menegaskan bahwa kegiatan pendidikan juga diarahkan untuk membentuk akhlak, kepemimpinan, serta kepedulian sosial peserta didik.
“Paduan suara seperti ini menjadi salah satu contoh bahwa anak-anak bisa belajar banyak hal di luar kemampuan bernyanyi. Mereka belajar disiplin mengikuti latihan, bertanggung jawab terhadap perannya, menghargai teman, membangun kekompakan, dan berani tampil. Nilai-nilai seperti inilah yang penting untuk terus kita kembangkan,” imbuhnya.
Kepala SMP Negeri 1 Surabaya Eko Widayani, mengatakan pencapaian tersebut tidak semata-mata berorientasi pada kemenangan dalam kompetisi. Proses panjang yang dijalani para siswa justru menjadi bagian penting dalam membentuk karakter mereka.
“Dukungan dan proses pembimbingan yang kami lakukan merupakan bagian dari pendidikan karakter dan tumbuh kembang anak melalui bakat dan talenta mereka, salah satunya di bidang olah vokal atau paduan suara. Kami tidak bisa berjalan sendiri, kami membutuhkan dukungan dari para orang tua yang luar biasa,” kata Eko.
Menurutnya, keberhasilan para siswa lahir dari kolaborasi tiga unsur utama, yakni sekolah, pelatih, dan orang tua. Ketiganya berperan sebagai satu kesatuan dalam mendampingi siswa, mulai dari proses latihan hingga mengikuti kompetisi.
“Di balik anak-anak yang hebat, pasti ada orang tua yang hebat dan guru-guru yang hebat. Karena ini merupakan sebuah tim, seluruh pihak harus saling mendukung. Semuanya dilakukan untuk mendukung pertumbuhan dan pendidikan karakter anak melalui bakat dan talenta mereka,” ujarnya.
Pembinaan One Voice Spensabaya dilakukan secara rutin sebagai bagian dari kegiatan pengembangan diri. Untuk meningkatkan kemampuan dan jam terbang, siswa juga mendapatkan tambahan latihan ketika akan menghadapi kompetisi tertentu. Latihan tambahan tersebut dilakukan di luar jam sekolah sehingga tidak mengganggu kegiatan pembelajaran.





