Indonesia segera punya buku sejarah nasional baru yang merangkum perjalanan bangsa secara lebih utuh dan mutakhir.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon memaparkan perkembangan terbaru penyusunan buku sejarah Indonesia versi baru yang dijadwalkan rilis bulan depan. Ia menekankan bahwa pembaruan ini menjadi kebutuhan mendesak karena Indonesia sudah lama tidak melakukan penulisan sejarah secara menyeluruh.
Menurut Fadli, sejarah bukan hanya arsip masa lalu. Ia adalah memori kolektif dan pijakan dalam merumuskan kebijakan publik, termasuk membangun karakter bangsa.
Selama ini, materi sejarah yang beredar di masyarakat dan lembaga pendidikan dinilai belum mencakup perkembangan Indonesia secara komprehensif, terutama periode setelah Reformasi.
Karena itu, penyusunan buku sejarah dilakukan secara bottom-up oleh akademisi dari berbagai daerah. Harapannya, pendekatan ini menghasilkan perspektif yang lebih objektif dan inklusif.
“Buku sejarah ini kan bagian dari program dari Direktorat Sejarah dan Museum. Ini Direktorat yang baru dibentuk sejak tahun lalu. Padahal kita selalu bicara sejarah itu penting. Tapi, siapa yang menulis sejarah?” kata Fadli, usai menerima audiensi Executive Chairman B-Universe, Enggartiasto Lukita, di Kantor Kementerian Kebudayaan, Jakarta Pusat, dikutip dari BeritaSatu.com Jumat (14/11/2025).
Minimnya Dokumentasi Hajatan Politik
Fadli juga menyinggung minimnya dokumentasi sejarah terkait hajatan politik besar seperti pemilu. “Ternyata sudah lama kita tidak menulis sejarah. Terakhir itu bahkan pemilu terakhir yang ditulis saja Pemilu tahun 1999. Pemilu-pemilu lain belum ada,” ujarnya.
Buku sejarah nasional versi baru ini ditulis oleh para sejarawan profesional dari 34 perguruan tinggi. Mereka terdiri dari guru besar dan doktor yang kompeten di bidang sejarah. Proyek ini dibagi menjadi 11 jilid dan berbasis pada referensi utama yang sudah ada sehingga tidak ditulis dari nol.
Saat ini penyusunan memasuki tahap akhir dan seluruh materi sudah selesai ditulis. Proses yang berjalan kini adalah penyuntingan. “Sejauh ini sudah selesai, tinggal dalam proses editing,” tegas Fadli.
Rencana Penulisan Sejarah Tematik
Ia menambahkan, penulisan sejarah tidak berhenti pada 11 jilid tersebut. Mulai tahun depan, Kementerian Kebudayaan akan memulai proyek lanjutan untuk sejarah tematik.





