Buku Karya Najwa Shihab Dibakar Warganet gegara Sindir Jokowi, Apa Maknanya bagi Demokrasi?

Presenter Najwa Shihab dan tangkapan layar bukunya yang dibakar. (Kolase Istimewa)

Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan itu kemudian mengutip pernyataan dari novelis Ellen Hopkins tentang pembakaran buku dan gagasan seseorang.

Novelis Ellen Hopkins mengatakan, ‘Bakar saja setiap buku, hanguskan setiap halaman, hancurkan setiap kata menjadi abu. Namun gagasan tak dapat dibakar. Dan mungkin itulah ketakutanmu yang sesungguhnya.’”

Direktur Eksekutif Jaringan Moderat Indonesia Islah Bahrawi juga angkat suara. Terkait dibakarnya buku presenter kondang Najwa Shihab. Ia memberi sindiran menohok bagi para warganet yang menyerang Najwa.

Bacaan Lainnya

Kata Heinrich Heine, “mereka yg membakar buku, kelak akan membakar manusia.”,” ucapnya mengutip seorang jurnalis dari Jerman, dikutip dari unggahannya di X, Selasa (29/10/2024).

Tangkapan layar cuitan Islah Bahrawi.

Islah juga mengutip seorang penulis perempuan, yang mengatakan bahwa membakar buku hanya dilakukan orang bodoh. “Dan kata Rebecca Knuth, “membakar buku hanya dilakukan mereka yang bodoh, primitif dan menolak kemajuan peradaban.”,” imbuhnya.

Mereka, salah satunya adalah yg membakar buku Najwa Shihab,” tambahnya.

Pembakaran Buku Alarm Bahaya bagi Demokrasi

Dikutip dari tulisan Akhmad Jauhari berjudul Pembakaran Buku Najwa Shihab Bahaya bagi Demokrasi, Indonesia OTW Otoriter Lagi? dimuat di Pikiran Rakyat (28/10/2024), aksi pembakaran buku Najwa Shihab dianggap sebagai sinyal bahaya bagi demokrasi.

Pembakaran buku dalam sejarah ternyata digunakan sebagai alat untuk menekan perbedaan pendapat, mengendalikan narasi, dan mengekang kebebasan intelektual. Praktik yang sudah lama dilakukan ini menimbulkan ancaman signifikan terhadap masyarakat demokratis, karena merusak prinsip-prinsip dasar kebebasan berbicara, penyelidikan terbuka, dan kewarganegaraan yang terinformasi.

Berikut 4 dampaknya:

1. Penindasan Perbedaan Pendapat dan Kebebasan Berbicara

Salah satu cara paling langsung menyerang demokrasi adalah dengan menekan perbedaan pendapat dan kebebasan berbicara. Buku sering kali menyediakan platform untuk beragam perspektif, menantang narasi dominan, dan mempertanyakan norma-norma masyarakat.

Pos terkait