Banser dan Garda Bangsa Saling Unjuk Kekuatan, Imbas Konflik PBNU dengan PKB

Banser Ansor (kiri) dan Garda Bangsa (kanan) berpotensi bakal berhadap-hadapan jika konflik PBNU dan PKB tidak segera disudahi. (Istimewa)
Profil Banser Ansor dan Garda Bangsa

Lalu, seperti apa profil dua organsisasi massa yang sama-sama lahir dari rahim NU, dan saat ini berpotensi saling berhadap-hadapan tersebut?

GP Ansor–yang saat ini diketuai oleh Addin Jauharudin–merupakan salah satu badan otonom (banom) NU yang bergerak di bidang kepemudaan dan kemasyarakatan. GP Ansor resmi berdiri sejak Muktamar ke-9 NU pada 24 April 1934 M/10 Muharram 1353 H di Banyuwangi, Jawa Timur.

 

Bacaan Lainnya

Gerakan Pemuda Ansor membawahi Banser, Rijalul Ansor, Densus 99, Lembaga Wakaf Ansor, Lembaga Bantuan Hukum Ansor, Barisan Ansor Anti-Narkoba, dan PT. Sorban Nusantara Travel. Selain itu, GP Ansor juga telah memiliki pengurus wilayah yang tersebar di 34 provinsi di Indonesia.

Saat ini, GP Ansor tercatat telah berkembang menjadi organisasi kemasyarakatan pemuda di Indonesia yang memiliki watak kepemudaan, kerakyatan, keislaman, dan kebangsaan. Punya 433 Cabang (tingkat Kabupaten/Kota) di bawah koordinasi 32 Pengurus Wilayah (tingkat Provinsi) hingga ke tingkat desa.

Sedangkan Banser adalah barisan pemuda yang dikenal dengan penampilannya, mulai dari pakaian, sepatu, topi, hingga atribut-atribut lainnya, yang mirip pasukan militer. Banser menjalankan berbagai fungsi yang biasanya dijalankan oleh polisi, seperti pengaturan lalu lintas atau pengamanan sebuah acara, juga tenaga relawan dalam peristiwa-peristiwa yang membutuhkan bantuan segera seperti dalam sebuah bencana.

Dikutip dari Ensiklopedia NU, Banser berdiri pada tahun 1962, atau 32 tahun setelah GP Ansor lahir. Didirikan untuk memberikan pengamanan pada kegiatan-kegiatan yang digelar oleh Partai NU ketika itu. Pendiriannya kemungkinan juga berkaitan dengan semakin keras dan menghangatnya persaingan politik pada waktu itu, baik di tingkat nasional dan regional maupun internasional.

Nama Banser mencuat ketika pecah peristiwa Gerakan 1 Oktober 1965, yang berujung pada pemakzulan Presiden Sukarno. Banser diyakini punya peran dalam penangkapan dan penumpasan aktivis Partai Komunis Indonesia (PKI) dan berbagai organisasi di bawahnya, terutama di daerah Jawa Timur, Jawa Tengah, dan sebagian Jawa Barat.

Saat ini, Banser banyak berperan dalam penjagaan, pengaturan, dan pengamanan acara-acara yang digelar oleh NU dan organisasi-organisasi afiliasinya. Namun, peran ini tidak hanya terbatas di kalangan NU. Mereka juga sering terlibat dalam penjagaan, pengaturan, dan pengamanan acara-acara keagamaan dan sosial di luar yang digelar NU. Kehadirannya ini secara umum bisa diterima karena memang diakui masih kurang dan terbatasnya aparat kepolisian dengan rasio jumlah penduduk di Indonesia.

Sebagai bagian dari NU, Banser selalu menyatakan eksistensinya sebagai pembela dan benteng ulama. Namun, di pihak lain, mereka juga selalu dengan tegas menyatakan komitmen nasionalismenya untuk selalu mempertahankan NKRI.

Sementara, Garda Bangsa merupakan organisasi sayap utama kepemudaan PKB. Dibikin sebagai sarana rembuk regenerasi kepengurusan untuk mendorong elektabilitas PKB di kalangan Muda.

Gerakan Pemuda Kebangkitan Bangsa dibentuk pada 11 Maret 1999. Punya target membentuk hingga 1 juta kader di tahun 2024  ini. Garda Bangsa juga mengklaim diri mereka sebagai tempat bagi anak muda yang ingin berpolitik, tetapi gaul.*

Pos terkait