Bahagia Itu Sederhana, Asal Tidak ‘Salah Mikir’

Ilustrasi Canva.

Menurut Epicurus, itulah kemewahan. Dan orang berpikir bahwa dengan kemewahan dia akan bahagia. Ketika kita punya air satu galon, kita mengira jika kita bahagia karena merasa suplai air minum kita akan aman sampai beberapa hari ke depan. Dengan logika seperti inilah akhirnya orang memilih kemewahan.

Sebenarnya kita ini, kan, hanya perlu tiga baju; satu yang kita pakai, satu yang kita cuci, dan satu lagi yang kita siapkan di dalam lemari. Besoknya, baju yang kita pakai dicuci, yang dicuci dimasukkan lemari, sedangkan yang di lemari kita pakai. Begitu seterusnya. Tetapi, bukalah lemari Anda, ada berapa baju di situ? Bahkan, kita juga punya baju dengan spesifikasi masing-masing: ada baju untuk di rumah, baju tidur, baju untuk hajatan, baju kerja, bahkan baju untuk mandi juga ada. Itulah yang disebut Epicurus sebagai kemewahan.

Bacaan Lainnya

Makan juga begitu. Makan itu untuk perut. Perut kita isi dengan makanan apa saja, dia mau, kok. Dia tidak pilih-pilih. Tetapi, kita menuruti maunya mulut. Maunya makan enak terus. Makan di kafe mewah atau di warung angkringan sebenarnya sama saja kalau untuk perut. Selama sebulan perut kita isi nasi, sayur, sama tempe saja, dia tidak akan protes. Malah lebih sehat.

Tetapi, kita memilih makan enak di tempat mewah yang harga makanan dan minumannya mahal. Padahal, fungsinya sama saja; untuk mengisi perut. Kita minum ice tea seharga Rp25 ribu atau es teh seharga Rp2 ribu, perut kita sama-sama mau menerimanya. Bukan lantas kalau minum es teh kita bakal muntah. Apalagi ini zamannya medsos, zaman ketika orang-orang memburu kemewahan untuk membuktikan eksistensi di dunia maya. Ketika makan di tempat mahal, cekrek, berfoto lalu diunggah. Kita itu selalu memburu kemewahan dan menganggapnya sebagai sumber kebahagiaan.

Apa iya seperti itu? Apakah kemewahan itu sumber kebahagiaan? Apakah kemewahan membuat kita tenteram dan damai?

Tidak, kata Epicurus. Kita tidak perlu itu untuk bahagia. Orang di desa tidak kenal kafe atau ice tea, tetapi hidup mereka tenang, tenteram, dan bahagia. Kita saja yang membikin ruwet hidup kita sendiri dengan menganggap bahwa kemewahan bisa membuat kita bahagia.

Ketiganya tadi—pasangan romantis, uang, dan kemewahan—adalah upaya mencari kebahagiaan melalui kepemilikan, tetapi memilikinya bukan dengan rasa senang. Kita bisa memilikinya, tetapi kita tidak selalu pasti senang dengan kepemilikan itu.

Maka dari itu, berhati-hatilah. Hidup di dunia cuma sekali, jangan sampai sengsara. ◼︎

Pos terkait