Bahagia Itu Sederhana, Asal Tidak ‘Salah Mikir’

Ilustrasi Canva.

Ketika Anda lapar atau haus, uang Anda tidak akan ada artinya kalau tidak ada makanan dan minuman yang bisa Anda beli. Maka, berhati-hatilah. Jangan keliru. Mungkin yang Anda anggap sebagai sumber kebahagiaan itu ternyata bukan.

Ada kisah menarik tentang uang bukan sumber kebahagiaan. Suatu ketika seseorang yang kaya raya tersesat di padang pasir. Dia bawa banyak uang. Dan dia kehausan. Dia berjalan mencari air.

Bacaan Lainnya

Di tengah jalan, dia bertemu seseorang. Orang kaya itu bertanya, “Apakah kamu punya air? Saya beli.”

Orang itu menjawab, “Saya tidak punya air. Tetapi saya jual dasi. Mau beli?”

“Saya butuh air!” sahut orang kaya itu ketus. Dia tinggalkan orang itu.

Di tengah jalan dia kembali bertemu seseorang. Dia tanya juga orang itu, apakah punya air? Ternyata jawabannya sama seperti orang pertama yang ditemuinya. Orang itu juga jualan dasi. Si orang kaya yang kehausan langsung melengos dan melanjutkan perjalanan mencari air.

Akhirnya dia menemukan sebuah oase. Ternyata, banyak orang yang mengantre untuk mendapatkan air di sana. Karena sudah tidak tahan lagi, saking hausnya, orang kaya itu menyerobot antrean. Kepada penjaga oase dia berkata, “Saya bayar berapa pun yang kamu mau, biarkan saya masuk dan minum sekarang.”

Tetapi si penjaga menjawab, “Nanti dulu… Anda tidak bisa masuk.”

“Kenapa?”

“Kalau mau masuk harus pakai dasi.”

Itulah pelajaran penting buat kita; bahwa uang bukanlah segalanya.

Kesalahan ketiga adalah menganggap bahwa kemewahan atau keberlebihan adalah sumber kebahagiaan. Mewah itu, misalnya, kita sebenarnya hanya butuh sepuluh, tetapi kita punya atau mencari dua puluh. Kita hanya perlu minum satu gelas, tetapi kita menyiapkan stok satu galon.

Pos terkait