Kasus Kekerasan Anak di Daycare Kian Memprihatinkan, Psikolog Berikan Solusi Ini

Day Care
Pakar Psikologi Universitas Airlangga (Unair), Dr Ike Herdiana MPsi Psikolog. - Humas Unair
Kekerasan di tempat penitipan anak tidak hanya mengancam perkembangan fisik, tetapi juga memicu trauma mendalam yang dapat merusak rasa aman anak hingga masa depan.

Kasus dugaan kekerasan dan penelantaran anak di daycare atau tempat penitipan anak kembali mencuat dan menjadi sorotan publik.

Merespons fenomena tersebut, Pakar Psikologi Universitas Airlangga (Unair), Dr Ike Herdiana MPsi Psikolog memberikan pandangannya. Dari kacamata perlindungan anak dan perempuan, insiden tersebut tidak hanya mengancam masa depan perkembangan anak. Tetapi juga memberikan pukulan emosional yang berat bagi para ibu.

Berdasarkan teori perkembangan psikososial, usia dini adalah masa kritis bagi anak untuk membangun rasa aman melalui hubungan yang tanggap dari pengasuhnya. Ruang penitipan yang seharusnya menjadi tempat aman justru berubah menjadi sumber trauma yang membekas.

Bacaan Lainnya

“Anak bisa mengalami ketidakpercayaan terhadap orang dewasa dan mempersepsikan lingkungan sosial sebagai ancaman. Kondisi ini berisiko memicu kecemasan, separation anxiety yang ekstrem, hingga depresi di masa depan,” jelasnya, Jumat (1/5/2026).

Mengingat banyak korban masih berusia balita dan belum mampu bercerita, orang tua dituntut lebih peka terhadap perubahan perilaku di rumah. Tanda-tanda trauma ini bisa muncul melalui respons emosional maupun fisik yang tidak biasa setelah anak pulang dari tempat penitipan.

“Orang tua harus waspada jika anak mendadak sangat rewel, murung, mudah frustasi, mengalami gangguan tidur. Hingga tiba-tiba kembali mengompol sebagai bentuk kecemasan,” papar Ike.

Kasus ini juga memunculkan rasa bersalah mendalam bagi para ibu yang harus bekerja meninggalkan anaknya.

Menyoroti kerentanan tersebut, Ike menegaskan bahwa ibu tidak boleh termakan stigma sosial yang menyalahkan mereka. Menitipkan anak pada lembaga yang legal dan berizin adalah sebuah keputusan yang rasional dan wajar.

“Ibu harus memvalidasi bahwa dirinya juga korban dari sistem yang tidak aman. Agar rasa bersalah ini tidak memperburuk relasi yang justru bisa menghambat proses pemulihan anak,” tuturnya.

Pos terkait