Bagaimana Pengaruhnya?
Berdasarkan laporan Hootsuite We Are Social 2023—lembaga yang menyajikan data dan tren yang dibutuhkan dalam memahami internet, media sosial, dan perilaku e-commerce—penetrasi internet Indonesia cukup besar. Sebanyak 64,4 persen masyarakat Indonesia menggunakan internet, setara dengan 212 juta penduduk.
Sementara itu, 77 persen pengguna internet Indonesia, atau setara dengan 167 juta orang, merupakan pengguna medsos. Fenomena ini terjadi karena, menurut pakar budaya dan komunikasi digital Universitas Indonesia Firman Kurniawan, semakin banyak orang di daerah luar perkotaan mulai beralih menggunakan internet dan medsos.
Maka dari itulah, kata Firman, medsos menjadi sarana paling krusial untuk keperluan kampanye. Medsos dipilih karena ruang ini dipenuhi oleh pemilih muda, yakni Milennial dan Gen Z, di mana suara mereka mendominasi lebih dari 50 persen suara total pemilih dalam Pemilu kali ini.
Tim sukses para calon pun menangkap peluang ini. Walhasil, tujuh dari 10 unggahan yang muncul di beranda medsos khalayak umum saat ini mengandung unsur politik.
“Karena dananya kuat dan produktivitas (tim capres-cawapres) membuat kontennya tinggi, mereka menggelontor jagat media sosial. Kalau itu terjadi, persepsi (publik) akan terbentuk berdasarkan jumlah konten terbanyak, terutama persepsi bagi pemilih pemula,” ujar Firman, dikutip dari BBC Indonesia, Jumat, 8 Desember 2023.
Algoritma medsos memberikan kemudahan bagi tim kampanye untuk memproduksi konten yang disesuaikan dengan profil audiens sasaran, berdasarkan usia, letak geografis, maupun jenis kelamin. Nah, ketika kandidat punya dana besar dan sumber daya yang kuat untuk memproduksi konten, maka timnya bisa mendominasi lanskap media sosial memanfaatkan petunjuk dari algoritma tersebut. Barangkali karena itulah para tim sukses memilih tema “akrobatik”, mengingat tema-tema seperti itulah yang cenderung disukai oleh Gen Z—setidaknya menurut versi algoritma medsos.
Alhasil, konten-konten politik bernuansa absurd namun ‘menghibur’ diproduksi secara massif, disuguhkan kepada Gen Z yang lahap medsos, hingga akhirnya mereka terbuai.
Menurut salah satu pendiri Bijak Memilih—sebuah gerakan yang mengampanyekan Pemilu 2024 kepada anak muda—Andhyta Firselly Utami, sebagaimana dia tulis dalam cuitannya di akun X—sebelumnya Twitter—banyak pemilih muda yang mengenal pasangan capres-cawapres hanya berdasarkan gimmick di media sosial.
“Kaget, beberapa pengguna @bijakmemilihid, terutama yang muda banget (first time voters) banyak yang lapor baru tahu beberapa ‘kontroversi’ capres, karena yang selama ini mereka terpapar cuma gimik-gimik aja,” katanya.
Sementara itu, menurut Peneliti Pusat Riset Politik Badan Riset Inovasi Nasioal (BRIN) bidang Komunikasi Politik, Nina Andriana, model kampanye akrobatik itu sengaja dibikin untuk menyasar emosi pemilih muda. Hanya emosi, tidak termasuk kognisi rasional.
“TPN hanya memperlihatkan yang gemoy-gemoy dari Prabowo. Kemudian Anies hanya yang intelektual saja.Kemudian rekam jejak Ganjar sebagai Gubernur Jawa Tengah enggak kelihatan. Hanya kulit-kulitnya saja yang diterima oleh anak muda. Sehingga anak muda hanya memilih berdasarkan emosi, tidak lagi memilih secara rasional,” kata Nina, Jumat, 1 Desember 2023, dikutip dari BBC News Indonesia.
Nina mengimbau agar para timses tak hanya menyajikan sisi-sisi ringan dan lucu saja demi menarik atensi pemilih muda. Kata Nina, mereka juga harus punya tanggung jawab untuk mengedepankan edukasi politik.
“Dalam masa kampanye, jangan gimik itu terus yang jadi andalan. Harus ingat, bahwa masyarakat sudah mulai cerdas dan mereka ingin tahu calon-calon ini akan melakukan apa secara riil,” kata Nina.
Beberapa kritik tersebut rupanya tak membuat tim kampanye para calon bergeming. Mereka umumnya mengeklaim bahwa akrobat di medsos itu justru menjadi sarana untuk memperkenalkan substansi dari pribadi para capres, sekaligus meningkatkan kesadaran berpolitik para pemilih muda.
Juru bicara Anies Baswedan, Angga Putra Fidrian, mengaku timnya tidak pernah berusaha mengubah kepribadian Anies, dengan tujuan agar masyarakat dapat merasa semakin dekat dengannya.
“Kami inginnya Pak Anies tetap otentik, jadi dirinya sendiri, dengan karakter dosen, intelektual. Cak Imin atau Gus Imin dengan karakter anak santri yang asyik dan pintar. Itu yang ingin kami dorong,“ tutur Angga.
Sementara itu, juru bicara TKN Pemilih Muda Prabowo-Gibran, Dedek Prayudi, mengaku bahwa pihaknya tidak sedang berusaha menutupi mata Gen Z dengan kampanye gemoy Prabowo-Gibran. Kata Dedek, timnyasedang berusaha menarik minat generasi muda dengan cara santai.
“Politik harus disampaikan dengan gestur-gestur dan cara yang dianggap beda. Itu termasuk sensasi, dan itu enggak jelek. Sensasi itu mengajak orang untuk beriang gembira,“ katanya.
Sedangkan Direktur Eksekutif Komunikasi Informasi dan Juru Bicara TPN Ganjar-Mahfud Yostinus Tomi Aryanto mengatakan, timnya berkampanye dalam kemasan santai dan ringkas agar visi-misi Ganjar-Mahfud mudah dipahami generasi muda.
“Kalau disampaikan dengan terlalu meremehkan, tentu saja kehilangan substansinya. Begitu juga sebaliknya,jangan sampai hal-hal yang sudah berat disampaikan dengan cara terlalu rumit,“ katanya.
Jadi, wahai anak muda, mau yang mana, nih? Intelek, gemoy, atau BTS Army?*





