Gemoy
Papan iklan yang memampang sosok Capres Prabowo Subianto dan Cawapres Gibran Rakabuming Raka dalam wujud ilustrasi pipi gembul bertebaran di berbagai kota di Indonesia, terutama DKI Jakarta dan sekitarnya.
Biasanya gambar ini dibarengi slogan, “Presidenku Gemoy”—julukan yang belakangan ini melekat pada Prabowo. Gambar seperti itu juga disebarluaskan Di media sosial TikTok, lalu dideklarasikan oleh tim sukses sebagai ciri khas kampanye Prabowo-Gibran.

Menurut juru bicara Tim Kampanye Nasional (TKN) Pemilih Muda Prabowo-Gibran, Dedek Prayudi, sebutan gemoy pada Prabowo muncul dengan sendirinya. Muncul dari pendukung di media sosial.
“Saat itu ada video Pak Prabowo yang sedang berjoget, kemudian dikomentari salah seorang netizen di TikTok, yang lebih dimainkan teman-teman Generasi Z. Komennya saat itu adalah gemoy, ‘Pak Prabowo gemoy’, dan itu menjadi viral,” kata Dedek, dikutip dari BBC Indonesia, Ahad, (10/12).
Dedek mengaku timnya hanya mengamplifikasi sebutan itu, sekaligus mengikuti arah yang diinginkan para pendukung di akar rumput, terutama dari kalangan Gen Z. Dia juga menyatakan bahwa selama masa kampanye, TKN Prabowo-Gibran fokus memanfaatkan medsos sebagai sarana untuk menjangkau pemilih muda.
Dalam laporan Koran Tempo pada Jumat, 1 Desember 2023, juga disebutkan ada tim relawan khusus yang terdiri dari 10 ribu orang dan tersebar di seluruh daerah, yang menamakan diri mereka Pride alias Prabowo-Gibran Digital Team. Mereka bertugas membuat konten kampanye digital bernuansa kekinian menggunakan kecerdasan buatan (AI).
Untuk keperluan kampanye itu, sebagaimana laporan Meta Ad Library, akun centang biru milik Prabowo Subianto dipromosikan dengan dana senilai Rp1,3 miliar oleh Indonesia Adil Makmur. Selain itu, ada juga partisipasi dari relawan bernama Bakti Untuk Rakyat, yang mengeluarkan dana Rp653 juta untuk mendongkrak unggahan di medsos.
Jika ditotal, akun-akun medsos yang mendukung Prabowo, baik yang resmi dari TKN atau yang dioperasikan relawan, menghabiskan sekitar Rp2,27 miliar untuk beriklan di Meta selama tiga bulan belakangan.
Salam Tiga Jari ala “Hunger Games” dan BTS Army
Momentum ramainya serial The Hunger Games, dengan dirilisnya film terbaru The Hunger Games: Ballad of Songbirds & Snakes, menjadi keuntungan tersediri bagi Tim Pemenangan Nasional (TPN) Ganjar Pranowo-Mahfud MD.
Pasalnya, para pemilih muda sepertinya melihat kemiripan antara tanda tiga jari yang digunakan Ganjar dengan karakter utama Hunger Games, Katniss Everdeen.

Salam itu berbeda dengan salam metal tiga jari yang sebelumnya kerap digunakan PDI Perjuangan. Salam tiga jari Ganjar berupa mengacungkan three finger salute ala film The Hunger Games, dengan mengangkat jari telunjuk, jari tengah, dan jari manis.
Dalam sebuah unggahannya di medsos, Ganjar menjelaskan makna di balik tanda tersebut. “Tiga jari tiga janji: Taat pada Tuhan, patuh pada hukum, dan setia pada rakyat,” tulis Ganjar dalam deskripsi video akun TikTok-nya.
Tiga jari itu bukanlah cara pertama Ganjar untuk menggaet kaum muda memanfaatkan tren kekinian. Dalam salah satu video TikTok-nya yang lain, Ganjar juga mengaku seorang Army, alias penggemar grup asal Korea Selatan BTS. Dalam video tersebut, mukanya diedit menjadi Jungkook BTS, lalu muncul foto-foto anggota lain dibarengi lagu Standing Next To You dari Jungkook BTS.
Direktur Eksekutif Komunikasi Informasi dan Juru Bicara TPN Ganjar-Mahfud, Yostinus Tomi Aryanto mengatakan bahwa Ganjar dan Mahfud punya media sosial yang digunakan sebagai sarana kampanye sekaligus keperluan pribadi.
“Dari sejak sebelumnya (masa kampanye) kedua kadidat ini, Pak Ganjar dan Pak Mahfud, memang sudah aktif (di medsos), bukan orang yang tidak mengenal medsos sebelumnya,” ujar Tomi, dikutip dari BBC News Indonesia, Ahad (10/12).
TPN Ganjar-Mahfud, kata Tomi, hanya mengkurasi dan menyebarkan konten di media sosial pribadi masing-masing calon. Tomi mengaku timnya belum mengorganisir kampanye media sosial secara intensif. Namun,dia menyadari pentingnya membedakan gaya komunikasi di masing-masing platform agar komunikasi bisa berjalan dengan efektif.
“Karena kami tahu teman-teman pemilih muda jumlahnya besar sekali, jadi kami berkomunikasi dengan cara yang kawan-kawan muda ini sukai. Kami akan ke situ. Kami tidak bisa mengabaikannya,” sebut Tomi.
Kendati Tomi mengaku belum intensif menggarap medsos, menurut penelusuran Samudra Fakta, kegiatan produksi dan penyebaran konten mereka di dunia maya cukup massif. Dan rupanya, ‘pelakunya’ adalah pasukan relawan.
Berdasarkan data Meta Ad Library, ada lebih dari 75 akun pendukung Ganjar-Mahfud yang beroperasi di media sosial. Mayoritas dioperasikan—atau setidaknya disponsori—oleh kelompok Ganjar Nusantara Indonesia.
Total dana yang dikeluarkan kelompok-kelompok relawan Ganjar untuk beriklan di media sosial lewat Metaini adalah Rp847,2 juta.
Namun demikian, menurut Tomi, TPN tidak pernah mengalirkan dana secara langsung kepada grup-grup relawan itu. Kata dia, TPN hanya memantau dan memberikan ide serta gagasan yang bisa disalurkan.





