Sekitar 95 juta warga Eropa masih menghadapi suhu di atas 35 derajat Celsius. Ilmuwan menilai perubahan iklim memperparah gelombang panas paling luas yang pernah tercatat di kawasan itu.
Gelombang panas ekstrem yang melanda Eropa mulai bergeser ke kawasan timur, tetapi ancamannya belum mereda. Sekitar 95 juta orang masih hidup dalam kondisi suhu mencapai 35 derajat Celsius pada Selasa, 30 Juni 2026, turun dari sekitar 130 juta orang sehari sebelumnya.
Pergeseran itu membuat negara-negara di Eropa Timur dan Selatan menjadi wilayah yang paling terdampak. Hongaria, Slovakia, Moldova, Ukraina, Romania, Serbia, dan Kroasia menghadapi lonjakan suhu tinggi, sementara sebagian wilayah Spanyol dan Italia masih berada dalam cengkeraman panas ekstrem.
Fenomena tersebut terjadi setelah Eropa mengalami salah satu gelombang panas paling luas dalam sejarah modern, yang memicu ribuan kasus darurat kesehatan, gangguan transportasi, dan lonjakan konsumsi listrik.
Kota-kota Menjadi Titik Paling Rentan
Dampak panas di kawasan perkotaan dinilai lebih buruk dibandingkan perkiraan rata-rata suhu regional. Efek pulau panas perkotaan membuat beton, aspal, dan bangunan menyimpan panas lebih lama dibandingkan wilayah pedesaan.
Perwakilan Klimadashboard, David Jablonski, mengatakan metode pemantauan cuaca konvensional belum sepenuhnya menangkap kondisi nyata yang dialami penduduk kota besar.
Selain suhu udara, tingkat kelembapan yang tinggi memperburuk kemampuan tubuh untuk mendinginkan diri melalui keringat. Analisis menggunakan indikator Wet Bulb Globe Temperature (WBGT) menunjukkan hampir separuh dari 850 kota besar di Eropa mengalami tingkat stres panas tertinggi yang pernah tercatat.
Kondisi tersebut meningkatkan risiko serangan panas, dehidrasi, hingga kematian, terutama bagi lansia, anak-anak, dan kelompok rentan lainnya.
Ilmuwan Kaitkan dengan Krisis Iklim
Konsorsium ilmuwan World Weather Attribution (WWA) menyatakan gelombang panas kali ini tidak dapat dijelaskan semata-mata oleh variasi cuaca alami atau fenomena El Nino.





