Gelombang Panas Bergeser ke Eropa Timur, 95 Juta Orang Masih Terpapar

Gelombang panas ekstrem yang melanda Eropa Barat, Juni 2026 - Tangkapan layar World Meteorological Organization atau Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) 

Menurut analisis mereka, akumulasi emisi karbon di atmosfer telah memperbesar intensitas suhu ekstrem di Eropa. Jika peristiwa serupa terjadi pada 2003, suhu diperkirakan sekitar 2 derajat Celsius lebih rendah. Dibandingkan gelombang panas 1976, selisihnya mencapai 3,5 derajat Celsius.

Theodore Keeping mengatakan kondisi saat ini belum pernah terjadi sebelumnya dalam skala geografis yang begitu luas.

“Ini adalah gelombang panas paling parah dan meluas yang pernah melanda wilayah sebesar ini di Eropa,” katanya.

Bacaan Lainnya

Ia menambahkan bahwa kenaikan suhu global sekitar 1,1 derajat Celsius dalam lima dekade terakhir telah meningkatkan peluang terjadinya peristiwa serupa pada bulan Juni.

Infrastruktur Tahan Panas Dinilai Mendesak

Simon Stiell memperingatkan bahwa ketergantungan dunia terhadap bahan bakar fosil terus memperburuk risiko cuaca ekstrem dan menuntut percepatan transisi menuju energi bersih.

Sementara itu, Carolina Pereira Marghidan menilai sistem peringatan dini yang dibangun setelah tragedi gelombang panas Eropa 2003 memang telah menyelamatkan banyak jiwa, tetapi tidak lagi cukup menghadapi intensitas panas saat ini.

“Kita membutuhkan investasi yang lebih besar untuk membangun rumah, kota, dan infrastruktur yang tahan panas agar masyarakat tetap aman,” ujarnya.

Para peneliti memperingatkan bahwa tanpa penurunan emisi karbon secara signifikan, gelombang panas yang saat ini dianggap ekstrem dapat menjadi kondisi normal baru bagi Eropa pada dekade mendatang.***

Pos terkait

Tinggalkan Balasan