Bukan Rezeki Instan! Pasutri Sibolga Naik Haji Setelah 15 Tahun Jualan Sembako

Askar Simbolon (75) dan Asniar Pasaribu (69) di depan toko sembako miliknya. Pasangan lansia ini berangkat haji setelah menabung bertahun-tahun. Foto:Kemenag
Dari hasil jualan mie instan dan kopi sachet, pasangan dari Sibolga, Teluk Tapian Nauli, Sumatera Utara, berhasil menapak jalan ke Baitullah. Seperti apa perjuangan mereka menggapai mimpi ke ibadah haji ke Tanah Suci?

___________

Aroma minyak goreng dan rempah-rempah selalu jadi penanda pagi di sebuah sudut rumah di Sibolga,Teluk Tapian Nauli, Provinsi Sumatera Utara. Di balik rumah sekaligus toko itu, sepasang lansia terus mengayuh harapan dari hasil penjualan sembako.

Askar Simbolon (75) dan Asniar Pasaribu (69) menjalani hari-hari mereka dengan kesederhanaan yang konsisten. Setiap pagi, sebelum ayam berkokok, Askar mulai menata dagangan di warung kecil yang menempel di bagian depan rumah mereka—beras, gula, telur, minyak goreng, sabun, hingga kopi sachet.

Bacaan Lainnya

Meski warung itu tidak pernah ramai, keduanya tetap bersyukur. “Kadang cuma laku lima bungkus mie instan. Tapi kami tetap sisihkan sedikit untuk tabungan haji,” ujar Asniar sembari mengusap air mata.

Pasangan ini mulai menabung sejak belasan tahun silam. Mereka menabung rupiah demi rupiah, menahan keinginan, dan terus percaya bahwa Allah Swt akan membuka jalan. Setelah bertahun-tahun, mereka akhirnya berhasil mendaftar haji secara resmi—meski harus menunggu antrean panjang.

“Saat mendaftar, saya masih kuat angkat karung beras sendiri. Sekarang harus pakai tongkat, bahkan kadang dipapah istri,” cerita Askar seperti dilansir laman Kemenag, Kamis, 8 Mei 2025 lalu.

Pandemi COVID-19 pada 2020 sempat memukul usaha kecil mereka. Penjualan anjlok, dan mereka terpaksa menjual kebutuhan pokok secara utang ke tetangga yang juga terdampak. Di tengah tekanan ekonomi itu, mereka kehilangan salah satu anaknya—yang selama ini menjadi tulang punggung keluarga.

Kesedihan itu hampir membuat mereka menyerah pada niat berhaji. Namun, dukungan dari keluarga dan tetangga membuat mereka kembali bangkit. “Kami merasa tidak sendiri. Tetangga dan anak-anak terus menguatkan kami,” ujar Asniar.

Kabar Bahagia di Awal Tahun 2025

Awal 2025, kabar bahagia akhirnya datang. Kantor Kementerian Agama Kota Sibolga menyampaikan bahwa nama mereka masuk dalam daftar jemaah haji Kloter 23 Embarkasi Medan, bersama jemaah asal Medan dan Padang Lawas Utara.

“Rasanya seperti mimpi. Allah tetap beri kami kesempatan meski fisik sudah tidak sekuat dulu,” kata Asniar dengan suara bergetar.

Warga kampung ikut larut dalam haru. Mereka datang untuk mengantar dan mendoakan. Anak-anak pasangan ini juga turut membantu membeli perlengkapan haji.

 Askar dan Asniar kini bersiap menunaikan rukun Islam kelima. Mereka melangkah perlahan namun pasti, mengandalkan semangat yang tak pernah surut.

“Banyak yang bilang kami sudah tua. Tapi bagi kami, ini perjalanan cinta menuju Allah. Kami ingin berangkat dan pulang dengan hati bersih,” ucap keduanya.

Kisah Askar dan Asniar menjadi bukti bahwa impian besar bisa tumbuh dari kesabaran, ketulusan, dan usaha kecil yang konsisten. Dari warung sembako sederhana di Sibolga, mereka akhirnya sampai ke jalan menuju Baitullah.***

Pos terkait