Habib Luthfi bin Yahya, mantan Ketua Jamíyyah Ahli Thariqah al-Mu’tabarah an-Nahdliyyah (JATMAN)—organisasi tarekat di bawah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU)—dan mantan Sekjen PBNU Helmy Faishal Zaini mendeklarasikan organisasi baru bernama Jam’iyah Ahlith Thariqah al-Mu’tabarah Ahlussunnah wal Jamaah, disingkat JATMA Aswaja. Wadah ini diklaim untuk menampung pengamal tarekat dari kalangan Ahlussunnah wal Jamaah.
__________
Deklarasi JATMA Aswaja digelar usai acara “Dzikir dan Pengajian Rutinan Jumat Kliwon Kanzus Sholawat Kota Pekalongan”, pada Jumat pagi, 18 April 2025. Dihadiri oleh para ulama dan masyayikh dari beberapa daerah, seperti Jawa Timur, Kalimantan, Sulawesi, dan lain-lain.
JATMA Aswaja berdiri sebagai organisasi kemasyarakatan (ormas) yang bersifat independen, berdasarkan Surat Keputusan Kementerian Hukum dan HAM Republik Indonesia Nomor AHU-0001630.AH.01.07.TAHUN 2025.
“Dengan adanya SK ini, maka kedudukan kami adalah sebagai ormas yang sah, mandiri, dan tidak menjadi bagian underbow dari organisasi lain manapun,” ujar Sekjen JATMA Aswaja, Helmy Faishal Zaini, dalam keterangan tertulisnya, Jumat, 18 April 2025
Kata Helmy, JATMA Aswaja menekankan pentingnya kemandirian organisasi, khususnya dalam bidang ekonomi, pertanian, dan pendidikan, sebagai bagian dari kontribusi nyata terhadap ketahanan nasional.
“Tantangan ke depan bukanlah hal kecil, terutama dalam bidang ekonomi dan pendidikan. Kita harus ikut serta memperkuat pertahanan dan ketahanan nasional. Dunia tarekat harus bisa menyuarakan nilai-nilai luhur Pancasila sebagai ideologi negara,” lanjut mantan Menteri Desa Era SBY itu.
Selanjutnya, kata Helmy, JATMA Aswaja berdiri di atas nilai-nilai Islam Wasathiyah—yaitu konsep Islam pertengahan yang menolak ekstremisme dan keberagamaan yang kaku.
“Prinsip-prinsip tawasuth (moderat), tawazun (seimbang), tasamuh (toleran), dan i’tidal (adil) menjadi nilai yang tak terpisahkan dari praktik thariqah sejak dulu,” jelasnya.
Menurut Helmy, para mursyid tarekat mengajarkan bahwa beragama jangan sampai kehilangan kontak dengan realitas.





