Presiden Sukarno selalu mengingatkan rakyat Indonesia tentang sifat Maha Pengasih dan Maha Penyayang—Rahman dan Rahim—Tuhan kepada rakyat Indonesia. Dia pun menekankan agar rakyat Indonesia mencintai Tanah Airnya, karena itu adalah salah satu bentuk rasa syukur terhadap rahmat Tuhan.
Salah satu upaya Sukarno untuk memberikan pemahaman tersebut dia sampaikan melalui amanat saat shalat Idul Fitri di Masjid Baiturrahim, Istana Merdeka, Jakarta, 15 Februari 1964. Kala itu dia menjelaskan kepada jemaah tentang sifat Rahman dan sifat Rahim Tuhan—yang dia sebut Rahmaniah dan Rahimiah.
Sifat Rahmaniah Tuhan itu, menurut Sukarno, langsung terimplementasi pada bayi yang baru dilahirkan, setelah sembilan bulan sepuluh hari di dalam rahim ibu.
Begitu lahir, bayi itu langsung mendapatkan banyak rahmat Tuhan. Belum beramal apa-apa, tahu-tahu sudah diberi banyak nikmat oleh Tuhan, yang memungkinkannya untuk hidup.
Dan menurut Sukarno, rakyat Indonesia ini seperti bayi yang baru lahir itu. Yang langsung dilimpahi rahmat berupa Tanah Air. Dianugerahi bumi yang manusia bisa hidup di atasnya, bisa minum air darinya, dan menghirup udara yang ada di situ.
Sedangkan bentuk Rahimiah Tuhan, menurut Sukarno, adalah ketika Tuhan memberikan ganjaran kepada manusia atas amal-amalnya untuk mensyukuri rahmat tersebut. “Kalau kita berbuat baik, kita akan mendapatkan ganjaran,” katanya.
Untuk mempertegas tafsirnya, Sukarno mengutip firman Allah Swt. dalam Al-Quran Surah Al-Ra’d ayat 11, “Innallaha la yughayyiru ma biqaumin hatta yughayyiru ma bianfusihim (Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri).”
Berpijak pada ayat tersebut, Sukarno mengingatkan, setiap orang wajib membuat senang Tuhan agar bisa mendapatkan Rahimiah-Nya. Tak membuat Dia murka. Untuk itu, manusia wajib mengerjakan perintah Tuhan dan menjauhi larangan-Nya.
Salah satu bentuk mengerjakan perintah Tuhan itu, menurut Sukarno, adalah mencintai Tanah Air dan bangsa.
“Tuhan me-nggubrakkeun (lahirkan-red) kita di dunia ini, zonder (tanpa) kita beramal apa-apa, sudah diberi Tanah Air. Diberi tanah yang cantik ini, diberi air yang segar ini, diberi udara yang segar ini. Diberi masyarakat yang kita hidup di antaranya. Ini pun satu Rahmaniah Tuhan. Kita dilahirkan bukan di dalam gua sekarang ini, lho. Kita di-gubrakkeun bukan di dasar lautan. Tidak. Kita di-gubrakkeun di Indonesia dengan pulau-pulaunya yang cantik molek, dengan natur, alamnya yang begini, segar, dan lush and green; lush artinya segar” kata Sukarno.
Sukarno mengingatkan bahwa tanah air dan masyarakat adalah amanat Tuhan kepada manusia. Maka, kata dia, setiap rakyat wajib mencintai dan memeliharanya.
Untuk diketahui, saat menyampaikan amanahnya, Indonesia tengah bersitegang dan menjalankan konfronrasi terhadap Malaysia, pada periode 1962 – 1966, terkait persengketaan wilayah dan penolakan penggabungan wilayah Sabah, Brunei, dan Sarawak.
Pada 3 Mei 1964, Presiden Sukarno menolak pembentukan negara Federasi Malaysia. Sebagai pemimpin besar revolusi, Sukarno tidak setuju dengan hal itu, karena dianggap sebagai bentuk proyek neokolonialisme dan imperialisme Inggris.
“Tanah Air kita ini, Saudara-saudara, diancam bahaya. Tuhan perintahkan kepada kita, ‘Hai, buatlah Tanah Airmu terhindar dari bahaya’. Tanah Air ini adalah satu amanah Tuhan dan diancam Tanah Air ini oleh bahaya. Kewajiban kita untuk menyelamatkan Tanah Air amanah Tuhan ini kepada kita,” tegasnya.***





