Silaturahmi Keraton Surakarta dan Pesantren Shiddiqiyyah adalah Wujud Jembatan Leluhur di Tanah Jawa

Rombongan dari Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat melakukan silaturahmi kepada Syekh Moch. Mukhtarullohil Mujtabaa Mu’thi di Pondok Pesantren Majma’al Bachroin Chubbul Wathon Minal Iman Shiddiqiyyah, Jombang, Sabtu, 14 April 2025. Foto:Opshid Media
Pada Sabtu sore, 12 April 2025 lalu, rombongan Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat menyambangi Pondok Pesantren Majma’al Bachroin Chubbul Wathon Minal Iman Shiddiqiyyah, Ploso, Jombang. Bukan sekadar silaturahmi, tapi lebih pada upaya merawat hubungan antarlembaga budaya dan keagamaan, yang  menyentuh sisi terdalam relasi budaya dan spiritual.
______________

Udara sore menuju senja di Pondok Pesantren Majma’al Bachroin Chubbul Wathon Minal Iman Shiddiqiyyah, Ploso, Jombang, lebih dari sekadar cahaya mentari yang berancang-ancang ‘tidur’ pada Sabtu, 14 April 2025 itu.

Di bawah senja, rombongan Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat datang membawa bukan hanya langkah, tapi jejak sejarah—menghidupkan kembali silaturahmi yang telah dirajut para leluhur, dalam simpul darah, doa, dan ilmu yang tak pernah putus oleh zaman.

Dalam kunjungan tersebut, hadir Gusti Kanjeng Ratu, permaisuri Susuhunan Pakubuwono XIII, didampingi oleh Kanjeng Pangeran Aryo (KPA) Dani Nur Adiningrat, yang menjabat sebagai Pengageng Sasono Wilopo sekaligus Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan (Menkopolhukam) di lingkungan Keraton.

Bacaan Lainnya

Bersama beberapa kerabat lainnya, mereka disambut hangat oleh Syekh Mochammad Muchtarullohil Mujtabaa Mu’thi, Mursyid Tarekat Shiddiqiyyah dan Akmaliyyah, sekaligus pengasuh pesantren.

“Silaturahmi ini bukan pertemuan yang baru,” kata KPA Dani, dalam perbincangan yang berlangsung khidmat, seperti dilansir laman Opshid Media.

“Ini adalah kelanjutan dari jalinan para leluhur Keraton dengan para kiai tanah Jawa. Secara genetika dan nasab keilmuan, ternyata nyambung. Maka, bagi kami, pesantren ini bukan tempat asing. Ini rumah saudara.”

Rasa haru dan kekaguman menyelimuti suasana saat ditemukan bahwa Susuhunan Pakubuwana X, yang memiliki nama asli Malikul Kusno, adalah penganut Thoriqoh Akmaliyyah. \

Tanpa ragu, Syekh Muchtar pun menyambut pengakuan itu dengan kalimat sederhana namun penuh makna, “Podo karo Thoriqohku. Nyambung kabeh, alhamdulillah. Ini kalau bukan takdir dari Allah, tidak mungkin terjadi.”

Tak sekadar kunjungan seremonial, pertemuan ini menyentuh sisi terdalam relasi budaya dan spiritual yang telah lama mengakar di tanah Jawa.

Dalam suasana penuh keakraban, disepakati sebuah agenda penting: pelaksanaan doa Kautsaran di kompleks Keraton Kasunanan Surakarta. Sebuah langkah simbolik yang mengukuhkan bahwa hubungan antara pesantren dan Keraton bukan sekadar sejarah masa lampau, melainkan arah masa depan.

“Doa Kautsaran ini menjadi bentuk syukur dan cinta tanah air,” ujar Dani. “Kami percaya bahwa melalui budaya dan agama, kita bisa menjaga dan merawat Negara Kesatuan Republik Indonesia. Keraton adalah penerus Mataram Islam yang menjadi payung semua kalangan, tanpa membeda-bedakan. Dan kami melihat semangat yang sama dalam pondok ini.”

Gusti Kanjeng Ratu secara simbolis menyerahkan cinderamata kepada Syekh Muchtar, sebuah tanda kasih yang menyiratkan penghormatan, sekaligus harapan agar hubungan ini terus berlanjut dan bertumbuh.

Cinta Tanah Air 

Dalam dialog yang berlangsung hangat, Syekh Muchtar menekankan pentingnya mendoakan negeri ini. “Selalu kita doakan bangsa Indonesia, seluruh rakyat tanpa kecuali. Itu pula yang kami warisi dari para guru,” tutur Syekh Mukhtar.

Tak hanya soal spiritualitas, diskusi juga menyentuh dimensi kebudayaan. Dani menuturkan keinginan Keraton untuk menjalin kerja sama lebih luas dengan pondok pesantren, terutama dalam pelestarian budaya dan penggalian sejarah leluhur. “Kita bisa belajar banyak satu sama lain. Metode bisa berbeda, tapi nilai-nilai kita sama—cinta tanah air, kasih kepada sesama, dan kedekatan kepada Tuhan.”

Menjaga Api Leluhur

Kunjungan ini mengingatkan kita bahwa hubungan antarlembaga budaya dan keagamaan bukanlah sekadar formalitas, melainkan warisan yang perlu dirawat dan dikembangkan.

Di tengah tantangan zaman, jalinan antara Keraton Surakarta dan Pesantren Shiddiqiyyah menjadi pengingat bahwa akar budaya dan spiritual bangsa ini sungguh dalam dan kaya, tumbuh dari nilai-nilai kasih, cinta tanah air, serta penghormatan kepada leluhur.

Dan hari itu, di tengah lingkungan pesantren yang tenang di Jombang, dua kutub sejarah bertemu, saling meneguhkan, dan berjanji untuk terus menjaga cahaya yang telah dinyalakan para pendahulu.***

Pos terkait