Pada Kamis, 27 Juli 2025 lalu, Brunei Darussalam – Indonesia Friendship Association (BRUDIFA) mengunjungi Pondok Pesantren Majma’al Bachroin Hubbul Wathon Minal Iman Shiddiqiyyah Indonesia, di Ploso, Jombang, Jawa Timur. Kunjungan ini berujung kesepakatan kerja sama dalam ketenagakerjaan di lingkup Kerajaan Brunei.
Lawatan rombongan Brunei diwakili oleh President of BRUDIFA, Pangeran Brunei, dan lebih dari 30 orang ahli BRUDIFA. Kunjungan ini merupakan rangkaian dari lawatan persahabatan BRUDIFA di Kabupaten Jombang.
Sebelum ke Ponpes Shiddiqiyyah, BRUDIFA juga berkunjung ke Pendopo Pemerintah Kabupaten Jombang. Sebelum itu ke Pasuruan juga.
Pada momen tersebut, Nyai Shofwatul Ummah, istri dari KH. Muchammad Muchtar Mu’thi, pengasuh Ponpes Shiddiqiyyah, memperkenalkan pesantren dan sekolah khas Shiddiqiyyah, THGB beserta sistem dan program-programnya—yang khas dengan pendidikan cinta tanah air dan kemandirian ekonominya.
Mendengar penjelasan itu, President of BRUDIFA, Pehin Orang Kaya Laila Perkasa Kolonel Dato Paduka Awang Haji Mahdini Bin Dato Paduka Haji Basir, mengungkapkan kekagumannya terhadap Ponpes Shiddiqiyyah. Dia pun mengharapkan ada perjanjian kerja sama dan persahabatan antara kedua pihak.
“Mudah-mudahan niat dan hasrat kita melalui usaha kecil (persahabatan dan kerja sama) ini daripada persatuan persahabatan Brunei Darussalam di Indonesia mendapat syafa’at yang dikabulkan oleh Allah Swt,” kata Dato Paduka Awang Haji.
“Kita punya ada acara, yang ini di antara perjanjian persahabatan dengan BRUDIFA, khususnya dari Jombang. Mungkin kita akan membuatkan majelis perencanaan ini, peserta akademik perjanjian persahabatan ini. Singkatnya, kita membuat perjanjian kerja sama dengan lulusan tarbiyyah,” imbuhnya.
Sebelumnya, begitu tiba di Pesantren, tamu dari BRUDIFA diperkenalkan satu-persatu dengan monumen kebangsaan nasional Indonesia. Setelah itu, mereka diiringi menuju lokasi acara silaturahmi di Gedung Organisasi Shiddiqiyyah atau Orshid.
Mereka juga disambut pertunjukan rebana, Tari Saman, dan Gambus THGB. Para santri juga mengibarkan bendera Indonesia dan Brunei Darussalam di sepanjang jalan pesantren, sebagai simbol persahabatan. Dalam acara tersebut juga dinyanyikan dua lagu kebangsaan dua negara, yakni “Indonesia Raya” dan ‘Allah Peliharakan Sultan’.
Pihak Ponpes memberikan cinderamata berupa kain batik, produk usaha milik pesantren, dan buku mengenai Thoriqoh Shiddiqiyyah. Sedangkan pihak Brunei memberikan sebuah piagam dan buku. Tak lupa, ada juga doa dari Mursyid Tarekat Shiddiqiyyah, Syekh Muchammad Mukhtarullohil Mujtabaa Mu’thi.***





