Pakar Neurosains Ungkap Puasa Bikin Otak Tambah ‘Smart’ dengan Tiga Cara

Pakar neurosains sebut puasa mencerdaskan otak. (Ilustrasi)
Pakar neurosains sekaligus Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI, Taruna Ikrar, mengungkapkan jika puasa selama Ramadan bermanfaat bagi sel-sel otak manusia. Menahan lapar sebulan penuh disebut bisa memperbaiki fungsi kognitif.

Kata Ikrar, dari sisi neurosains, puasa punya manfaat besar bagi kesehatan saraf otak melalui tiga cara. Pertama, melalui neurosinaptik. Ini adalah sebuah proses di mana otak terlibat pembelajaran baru.

“Jika sebulan penuh berpuasa, struktur otak kita diarahkan untuk berlatih berpikiran positif. Maka, ini akan terbentuk, yang dulunya suka marah jadi sabar. Itu baru sinaptik,” jelas Taruna, dikutip dari Kultum Harian Ramadan (KURMA) di Masjid As-Salam Kantor BPOM, Jakarta, 3 Maret 2025.

Kedua, melalui neurogenesis, atau regenerasi sel-sel saraf untuk menggantikan sel-sel yang mati di otak. Saat seseorang berpuasa, kata Ikrar, terjadi proses otofagi atau lahirnya sel-sel baru dan regenerasi sel yang lebih muda. “Maka otak kita lebih fresh dan lebih mudah ingat,” terangnya.

Bacaan Lainnya

Ketiga, melalui neurokompensasi. Maksudnya, ketika plastisitas otak menurun karena termakan usia, proses pembiasaan saat puasa membuat kinerja otak makin terlatih menjadi lebih baik.

“Saat puasa, kemampuan kompensasi otak kita makin bagus. Dengan latihan puasa, maka otak akan berupaya lebih baik melatih dirinya,” ujar guru besar pada The National Health University, California, Amerika Serikat itu.

“Lewat puasa sebulan penuh, berdasarkan plastisitas, neurogenesis, dan fungsional kompensasi, jaringan otak dapat diperbarui, sehingga terbentuklah rute jaringan baru di otak,” imbuh Taruna.

Secara psikologis, lanjut dia, seseorang mampu menciptakan ketenangan dan mengendalikan emosi dengan berpuasa. Pada akhirnya hal ini dapat menurunkan kadar adrenalin.

Adrenalin yang terlalu tinggi menyebabkan penyempitan darah perifer. Aktifnya adrenalin menambah volume darah ke jantung dan jumlah detak jantung. Jika diturunkan, maka pembuluh darah koroner bakal meluas.

Tingginya Adrenalin perlu ditekan karena bisa menambah pembentukan kolesterol dari lemak protein berkepadatan rendah, yang meningkatkan risiko penyakit pembuluh darah, jantung, dan otak, seperti jantung koroner dan stroke.

“Penelitian endokrinologi menunjukkan bahwa pola makan saat puasa yang rotatif menyebabkan keluarnya hormon sistem pencernaan, seperti amilase dan insulin, dalam jumlah besar. Sehingga meningkatkan kualitas hidup dan kesehatan tubuh,” tambah Taruna.

Puasa disebut bisa mengurangi potensi stroke dan jantung koroner serta menjadikan manusia dengan pikiran lebih baik. Ketika seseorang memahami hikmah di balik ibadah puasa, menurut Taruna, manusia akan merasakan sendiri betapa besar pengaruh positifnya terhadap peningkatan kesadaran spiritual, pengendalian diri, serta peningkatan kesehatan fisik dan mental.

Dengan begitu, puasa menjadi lebih dari sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga sarana untuk memperbaiki kualitas hidup secara keseluruhan.***

Pos terkait