Survei Maarif Institute: 96 Persen Masyarakat Bangga Jadi Warga Negara Indonesia

Ilustrasi. | Foto: Istimewa
Survei nasional terbaru yang dilakukan oleh Maarif Institute mengungkapkan fakta bahwa mayoritas masyarakat Indonesia—yang diwakili oleh 96 persen responden survei—menyatakan bangga menjadi Warga Negara Indonesia (WNI).

Survei nasional itu melibatkan 1.221 responden berusia di atas 17 tahun yang tersebar di seluruh Indonesia. Survei dikerjakan pada periode 10-23 Desember 2024.

“Mayoritas masyarakat Indonesia bangga sebagai warga negara, meskipun terdapat variasi berdasarkan usia, pendidikan, pekerjaan,” kata Peneliti Maarif Institute, Yahya Fathurrozi, dalam kegiatan diseminasi hasil survei nasional di Jakarta, Kamis, 13 Maret 2025 lalu.

Kata Yahya, 56,6 persen responden menyatakan perasaan “Sangat Bangga”, disusul oleh 40,2 persen yang menjawab “Bangga”, sehingga total persentase responden yang merasa bangga mencapai lebih dari 96 persen.

Bacaan Lainnya

Hanya sebagian kecil, ungkap Yahya, yakni 2,1 persen, mengaku kurang bangga atau tidak bangga sama sekali. Sementara 1,2 persen lainnya memilih untuk tidak memberikan jawaban atau menyatakan ketidaktahuan.

“Tingginya persentase kebanggaan ini mencerminkan tingkat nasionalisme yang solid di kalangan masyarakat. Menunjukkan bahwa identitas sebagai bangsa Indonesia tetap menjadi nilai yang dijunjung tinggi dan dihormati secara luas,” ujarnya.

Hampir semua kelompok etnis menunjukkan tingkat kebanggaan di atas 95 persen, dengan pengecualian etnis Minang (93,9 persen) yang memiliki persentase “tidak tahu/tidak jawab” relatif tinggi (6,1 persen).

“Etnis Batak dan Madura mencatat kebanggaan 100 persen, mencerminkan keterikatan kuat dengan nilai-nilai kolektif atau kebanggaan kultural yang selaras dengan identitas nasional,” lanjutnya.

Dari sisi agama, Yahya memaparkan, responden Muslim dan non-Muslim sama-sama menunjukkan kebanggaan tinggi—dengan angka 96,6 dan 97,3 persen. Kelompok non-Muslim memiliki persentase “tidak bangga” lebih rendah (0,3 persen) dibandingkan Muslim (2,3 persen).

Sementara hasil survei berdasarkan latar belakang pendidikan, pesantren menunjukkan pola unik. Responden dengan orang tua berlatar belakang pesantren modern atau gabungan tradisional-modern memiliki persentase kebanggaan lebih rendah (90,5 dan 86,7 persen) dan persentase “tidak bangga” lebih tinggi (9,5 dan 10,1 persen).

Tren serupa terlihat pada latar belakang pribadi: alumni pesantren modern memiliki kebanggaan 90,8 persen.

“Hasil survei menunjukkan bahwa mayoritas masyarakat Indonesia memiliki rasa bangga terhadap kewarganegaraan mereka, meskipun terdapat beberapa variasi berdasarkan faktor usia, latar belakang pendidikan, pekerjaan, dan wilayah tempat tinggal,” terang Yahya.***

Pos terkait