Masyarakat Indonesia ternyata hobi belanja kendati kabarnya kondisi perekonomian dalam negeri sedang tidak baik-baik saja. Buktinya, tren berbelanja menggunakan fasilitas tunda bayar atau dikenal dengan Buy Now Pay Later (BNPL/PayLater) perbankan terus mengalami peningkatan.
Berdasarkan catatan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), kredit PayLater dari perbankan per November 2024 mencapai Rp21,77 triliun. Angka ini menunjukkan pertumbuhan yang cukup tinggi secara tahunan, yaitu sebesar 43,68 persen.
Temuan tersebut disampaikan oleh Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, dalam Konferensi Pers RDK Bulanan (RDKB) Desember 2024, Jakarta, Selasa 7 Januari 2025.
Sedangkan pada Oktober 2024, menurut Dian, kredit Paylater mencatatkan pertumbuhan 47,92 persen, menjadi Rp21,70 triliun. Angka itu merupakan total transaksi yang berlangsung dari 24,51 juta rekening.
“Ini menunjukkan bahwa bank melaksanakan ekspansi kredit terkait dengan konsumsi cukup signifikan melalui PayLater,” jelasnya.
Fenomena ini, lanjut Dian, menunjukkan perhatian perbankan di Indonesia menyasar kebutuhan masyarakat secara umumnya, terutama kredit dengan jumlah kecil.
Sebagai informasi, berdasarkan Laporan Perilaku Pengguna PayLater Indonesia 2024 yang diterbitkan oleh platform layanan kredit Kredivo, PayLater menjadi salah satu dari tiga metode pembayaran terpopuler untuk berbelanja online.
Sepanjang 2024, tingkat penggunaannya mencapai 70,5 persen. Sementara di sisi lain, penggunaan kartu kredit mengalami penurunan tajam, dari 15 persen pada 2023, tersisa 9,5 persen pada 2024.
Tren belanja konsumen juga makin bergeser. PayLater tak hanya mendominasi transaksi daring, tetapi juga menjadi pilihan populer di toko-toko fisik, yang kini menyumbang 27,7 persen dari total transaksi, tumbuh 169 persen sepanjang 2023.
OJK juga melaporkan penggunaan PayLater tumbuh pesat 144,35 persen/tahun. Tren ini diprediksi akan terus berlanjut, seiring meningkatnya permintaan masyarakat.***



