Ancaman di Samudra Hindia
Negara-negara di kawasan Samudra Hinda memiliki populasi yang cukup besar—hampir 35 persen dari populasi dunia—dengan keanekaragaman budaya dan sumber daya alam yang melimpah. Modal sosial-ekonomi tersebut membuat wilayah ini memiliki peran strategis di bidang perdagangan, suplai bahan mentah, minyak, dan tambang—di mana aktivitas tersebut terus meningkat dari tahun ke tahun.
Lantaran faktor itulah, menurut Direktur Eksekutif Forum Akademis Samudera Hindia Prof. Indra Jaya, Samudra Hindia menjadi ajang rebutan negara-negara di dunia. “Dulu hanya Amerika Serikat yang tertarik. Namun, saat ini China dan Australia juga mulai melirik Samudra Hindia,” kata Indra Jaya. Selain jalur perdagangan, kata Indra, Samudra Hindia juga memiliki potensi perikanan paling besar di antara tujuh samudra yang ada di muka bumi.
Karakteristik istimewa Samudra Hindia ini pada akhirnya menyisakan pekerjaan rumah, terutama dalam hal keamanan regional.
Stabilitas keamanaan di negara-negara sekitaran Samudra Hindia adalah masalah yang belum usai. Konflik yang dipicu berbagai faktor—mulai dari problem sektarian, perebutan sumber daya alam, terorisme, geopolitik kawasan, hingga ancaman perompakan—masih menghantui. Konflik yang mengakibatkan hilangnya nyawa manusia hingga menimbulkan gelombang pengungsi seperti di Rohingya adalah bukti bahwa tragedi kemanusiaan masih berlangsung di wilayah ini.
Perompakan di Samudra Hindia adalah perkara lainnya. Beberapa anak buah kapal (ABK) warga negara Indonesia (WNI) pernah menjadi korban. Para perompak diketahui menguasai teknologi. Mereka memiliki scanner radio yang bisa memonitoring percakapan antarkapal yang melintas. Mereka tidak bekerja sendiri. Ada pihak-pihak yang membantu suplai informasi. Pihak-pihak ini mengerti teknologi. Bahkan, mereka bisa melakukan peretasan bila memerlukan data penting yang tidak dimuat bebas di internet.





