Ancaman di Laut Natuna Utara
Di bagian utara Indonesia, Laut Natuna Utara yang berbatasan langsung dengan Laut China selatan menjadi masalah yang masih berlarut-larut.
Selama berabad-abad Laut China Selatan memegang peranan penting bagi keberlangsungan ekonomi negara-negara ASEAN, seperti Vietnam, Malaysia, Brunei, dan Filipina. Sementara Korea Selatan dan Jepang, kendati tidak mengeklaim kepemilikan atas Laut China Selatan, mengandalkan kawasan bebas tersebut untuk memenuhi lebih dari separuh kebutuhan energi mereka. Sedangkan Amerika Serikat, yang melindungi kepentingan sekutu-sekutunya, mempertahankan kehadiran militernya di kawasan tersebut.
China, Amerika Serikat, dan sebagian besar anggota ASEAN terlibat secara tak langsung dalam konflik tersebut. Indonesia sendiri sangat berhati-hati dalam menghadapi permasalahan ini.
Sengketa muncul karena banyak pihak yang ingin menguasai kandungan kekayaan alam yang ada di bawah laut tersebut, seperti minyak, gas bumi, dan sumber daya perikanan. Cadangan minyak dan gas yang ada di situ, menurut perkiraan pejabat AS, setidaknya setara dengan cadangan minyak di Meksiko, dan mungkin merupakan cadangan minyak kedua terbesar setelah Arab Saudi.
Untuk Laut Natuna Utara sendiri—yang merupakan wilayah Indonesia—memiliki potensi perikanan yang cukup besar dan mengandung cadangan gas alam penting bagi Indonesia.
Di samping kaya sumber daya alam, Laut China Selatan juga menjadi jalur lintas perdagangan Sea Lane of Transfortation dan Sea Lane of Communication kapal-kapal yang bergerak dari wilayah Timur Tengah ke Asia, Amerika, dan sebaliknya. Sekitar 40 ribu kapal melintas di wilayah ini setiap tahun.





