Waspada Panas Ekstrem, Jemaah Haji Diingatkan Hidrasi

Cuaca Panas Ibadah Haji
Ilustrasi ibadah haji. PIXABAY
Suhu hingga 42 derajat Celsius diprediksi melanda Arab Saudi saat haji 2026, dokter ingatkan jemaah penuhi cairan dan jaga pola makan agar tetap bugar.

Cuaca panas ekstrem diprediksi melanda Arab Saudi saat musim haji 2026 dengan suhu mencapai 42 derajat Celsius. Kondisi ini menjadi tantangan serius bagi jemaah, terutama dalam menjaga kebugaran tubuh selama menjalani rangkaian ibadah di Tanah Suci.

Dokter dan ahli gizi masyarakat Tan Shot Yen menegaskan, kebutuhan cairan menjadi faktor kunci menghadapi suhu tinggi. “Kebutuhan cairan orang dewasa sekitar 30 ml sampai 35 ml per kilogram berat badan per hari,” ujarnya, Senin (20/4/2026).

Ia mencontohkan, orang dengan berat badan 60 kilogram membutuhkan sekitar 1,8 hingga 2,1 liter cairan per hari. Kebutuhan ini bisa dipenuhi dari minuman maupun makanan yang dikonsumsi selama aktivitas ibadah berlangsung.

Bacaan Lainnya
Haus Bukan Tanda Awal

Tan mengingatkan, banyak orang keliru memahami tanda dehidrasi. “Bukan haus. Haus tanda akhir dehidrasi,” tegasnya. Ia menyebut, indikator awal justru dapat dilihat dari warna urine, bukan rasa haus yang dirasakan tubuh.

Menurutnya, urine berwarna jernih hingga kuning muda menandakan tubuh terhidrasi baik. Sebaliknya, warna kuning pekat menjadi sinyal awal kekurangan cairan yang perlu segera diantisipasi oleh jemaah.

Selain itu, konsumsi minuman seperti kopi dan teh perlu dibatasi. Keduanya dinilai dapat meningkatkan frekuensi buang air kecil sehingga mempercepat kehilangan cairan, terutama dalam kondisi suhu lingkungan yang tinggi.

Batasi Gula, Perbanyak Makanan Alami

Ahli gizi Rita Ramayulis menambahkan, pola konsumsi juga harus dijaga sejak sebelum keberangkatan. “Minuman yang tambahan gulanya banyak mulai dihindari agar metabolik tetap sehat,” ujarnya.

Ia juga menyarankan pembatasan makanan tinggi gula seperti donat, roti cokelat, dan biskuit berkrim. Konsumsi berlebih dinilai dapat mengganggu kondisi metabolisme tubuh selama menjalani ibadah yang membutuhkan stamina tinggi.

Rita mendorong jemaah mulai membiasakan konsumsi makanan minim proses atau makanan alami. Pola makan ini dinilai membantu tubuh lebih siap menghadapi tekanan cuaca ekstrem dan aktivitas fisik intens selama ibadah haji.

Pos terkait