Ketum PKB Muhaimin Iskandar sebut PBNU era Gus Yahya gagal dan tak layak diteruskan. Ia klaim suarakan keprihatinan yang selama ini dibungkam.
Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) sekaligus Ketua Majelis Pembina Nasional (Mabinas) IKA PMII, Muhaimin Iskandar atau Cak Imin, melontarkan kritik pedas terhadap kepemimpinan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) era Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya). Ia menilai rezim saat ini telah gagal dan tidak layak diteruskan.
Pernyataan tersebut disampaikan Cak Imin saat menghadiri acara halal bihalal Pengurus Besar Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB IKA PMII) di kawasan Jakarta Pusat, Minggu (19/4/2026) malam.
“Kesimpulannya sama, rezim hari ini sudah enggak boleh diteruskan. Enggak boleh diteruskan,” tegas Cak Imin dalam sambutannya.
Ia menyebut Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf sudah gagal dan tidak lagi bisa dijadikan tumpuan harapan warga Nahdliyyin.
“Karena apa? Tidak mampu lagi kita menitipkan harapan. Terutama Ketua Umum PBNU yang sekarang, menurut saya sudah gagal,” ucapnya.
Mewakili Suara yang Terpendam?
Cak Imin mengaku sebenarnya enggan membahas konflik internal NU dan merasa lelah. Namun, ia merasa terpaksa angkat bicara karena tidak ada tokoh lain yang berani menyuarakan keresahan serupa.
“Saya sebetulnya enggan ngomong ini, tapi saya lihat semuanya enggak ada yang ngomong itu. Saya itu sudah capek ngomong begini-begini sebetulnya. Tapi ya terpaksa mumpung ada alumni banyak, terpaksa saya yang ngomong. Mewakili yang tidak mau ngomong semuanya,” ungkapnya.
Cak Imin menegaskan kritik tersebut disampaikan murni berdasarkan keprihatinan mendalam terhadap kondisi umat Nahdliyyin.
“Kepemimpinan yang tidak solid, tidak produktif. Nah, ini harus menjadi keprihatinan kita semua,” ujarnya.
Fokus pada Perbaikan Umat
Cak Imin mengingatkan para alumni PMII bahwa muara perjuangan pergerakan mereka selalu berkaitan erat dengan kelestarian Nahdlatul Ulama.
“Dampak pada profesi kita, pekerjaan kita iya, tapi dampak pada perbaikan umat Nahdliyin dan Nahdliyat itulah yang paling pokok. Kenapa saya ngomong ini? Karena IKA PMII itu yang paling dekat adalah Nahdlatul Ulama,” pungkasnya.
Ia juga menegaskan bahwa NU adalah organisasi ulama, sehingga sebaiknya dipimpin oleh ulama.
“Ini kan organisasi ulama, ya. Ya harus ulama yang memimpin,” kata Cak Imin di acara yang sama.
Memanasnya Suhu Politik Jelang Muktamar
Kritik Cak Imin terhadap PBNU tidak muncul di ruang hampa. Sejumlah pengamat menilai pernyataan ini terkait erat dengan dinamika jelang Muktamar NU ke-35 yang direncanakan pada Juli atau Agustus 2026.
Wakil Sekretaris PCNU Kabupaten Bandung Barat, Asep Hidayatul Muttaqin, sebelumnya menilai PKB tidak mungkin bersikap pasif menghadapi kontestasi Muktamar NU. Menurutnya, PKB membaca kepemimpinan PBNU saat ini cenderung menjaga jarak dari basis politik historisnya.
Asep menyebut setidaknya ada empat figur yang mulai diperbincangkan sebagai representasi kepentingan harmonisasi PKB-NU, termasuk KH Abdul Salam Shohib (Gus Salam), pengasuh Pesantren Denanyar, Jombang, yang merupakan paman dari Cak Imin.
Sementara itu, Menteri Agraria dan Tata Ruang (ATR) Nusron Wahid yang juga hadir dalam acara halalbihalal IKA PMII menilai konsolidasi alumni PMII jelang Muktamar adalah hal yang wajar.
“PMII ini anak yang lahir dari rahim NU dan anak intelektual NU. Kalau kemudian PMII itu memikirkan NU sudah menjadi kewajiban dan keharusan,” ujar Nusron.
Hingga berita ini diturunkan, PBNU belum memberikan tanggapan resmi atas pernyataan Cak Imin. Namun, publik dan warga Nahdliyyin kini menanti langkah perbaikan apa yang akan muncul ke depannya, mengingat peran krusial NU sebagai salah satu pilar keagamaan terbesar di Indonesia.***





