Dari pesisir Kenjeran, mahasiswa Unair membaca satu masalah lama: produk UMKM punya potensi, tetapi akses ke pasar global kerap tersangkut di rantai pasok, penjualan, dan tata kelola keuangan.
Gagasan itu dibawa Nelson Rachel Rafael, mahasiswa Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga, dalam ajang International Youth Innovation Summit Batch 21 di Singapura dan Malaysia pada 7–10 April 2026.
Menurut Nelson, gagasan MarExa atau Maritime Export Accelerator lahir dari pengamatannya terhadap UMKM di kawasan pesisir Pantai Kenjeran, Surabaya. Ia melihat banyak produk lokal layak naik kelas, tetapi tertahan oleh kendala operasional dan pasar.
Empat Jalur Solusi
“Kami melihat MarExa sebagai solusi konkret. Platform ini menawarkan empat fitur utama bagi pelaku UMKM. Yaitu MasterClass untuk edukasi dari pakar, Retail Partner untuk jaringan pasokan bahan baku, Global Revenue untuk integrasi e-commerce ekspor, dan Revenue Streams,” kata Nelson.
Sebagai mahasiswa akuntansi, Nelson menggarap fitur Revenue Streams. Ia merancang sistem pelaporan keuangan yang menekankan transparansi dan akuntabilitas agar arus pendapatan serta modal pelaku usaha dapat dipantau secara waktu nyata.
“Saya menginisiasi pentingnya transparansi pengelolaan pendapatan dan modal. Dengan sistem ini, pelaporan keuangan pelaku usaha dapat dikelola secara maksimal dan dipantau secara real-time,” ujarnya.
Dari Kenjeran ke Forum Internasional
Gagasan itu kemudian membawanya menjadi delegasi fully funded sekaligus meraih tiga penghargaan, yakni 1st Best Project Innovation, 1st Best Presentation, dan Most Innovative Delegate. Namun, nilai utama inovasi ini tetap terletak pada upaya membuka jalan ekspor bagi UMKM pesisir.
Nelson mengakui tantangan terbesar datang saat memimpin tim lintas usia secara daring dan menghadapi penjurian berbahasa Melayu. “Kunci sukses kami adalah rutin berlatih online serta menyiapkan teknik storytelling dan jargon pembuka maupun penutup untuk memikat juri,” katanya.***





