Cuaca Panas Surabaya Bisa Memengaruhi Emosi, Bagaimana Menjaga Komunikasi?

Wantimpres
Pakar Komunikasi Politik Universitas Airlangga (Unair) Dr Suko Widodo Drs MSi. (Humas Unair)

Pakar komunikasi Unair Suko Widodo menilai ketidaknyamanan akibat panas dapat mengganggu konsentrasi dan cara merespons orang lain. Warga diimbau menjaga kondisi tubuh.

Cuaca panas di Surabaya menjadi perhatian karena dampaknya dapat melampaui ketidaknyamanan fisik. Pakar komunikasi Universitas Airlangga, Suko Widodo, menyoroti pengaruhnya terhadap interaksi sosial.

Dalam publikasi Unair News, Jumat, 23 Oktober 2026, Suko menilai suhu lingkungan yang tinggi berpotensi menurunkan konsentrasi dan membuat seseorang lebih mudah tersinggung.

Menurut dia, kelelahan dan kekurangan cairan dapat memengaruhi kemampuan mengendalikan respons ketika berkomunikasi, terutama di ruang publik yang padat.

Bacaan Lainnya

Penilaian tersebut disampaikan di tengah laporan cuaca panas Surabaya. Prakiraan BMKG yang diberitakan pada 20 Oktober menyebut suhu maksimum di sebagian wilayah dapat mencapai 38 derajat Celsius.

Angka prakiraan itu perlu dibedakan dari suhu hasil pengukuran. Kondisi yang dialami warga juga dapat berbeda menurut lokasi, waktu, dan lingkungan sekitar.

Mengapa Panas Bisa Memengaruhi Interaksi?

Suko, yang juga menjabat Ketua Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia Jawa Timur, menjelaskan bahwa ketidaknyamanan tubuh dapat memengaruhi pilihan kata dan nada bicara.

“Ketidaknyamanan tubuh dapat memengaruhi kondisi emosional, sementara emosi akan menentukan pilihan kata, nada bicara, serta cara kita merespons orang lain.

“Akibatnya, kesalahpahaman kecil di ruang publik bisa dengan mudah berkembang menjadi pertengkaran,” ujar Suko.

Ia mencontohkan situasi di jalan raya. Kemacetan, suara klakson, dan panas dari lingkungan sekitar dapat menambah ketidaknyamanan pengguna jalan.

Namun, penjelasan itu merupakan penilaian mengenai risiko dalam komunikasi. Publikasi tersebut tidak menyertakan penelitian yang mengukur peningkatan pertengkaran di Surabaya akibat panas.

Secara lebih luas, Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO menyatakan paparan panas dapat mengganggu kemampuan bekerja dan belajar serta memperburuk kondisi kesehatan tertentu.

WHO juga menjelaskan bahwa dampak panas berbeda pada setiap orang, bergantung pada kondisi kesehatan, aktivitas, lama paparan, dan kemampuan beradaptasi.

Apa yang Dapat Dilakukan?

Suko mengimbau masyarakat mencukupi kebutuhan cairan dan beristirahat ketika lelah. Ia juga meminta warga lebih berhati-hati merespons perbedaan pendapat di rumah, kampus, maupun tempat kerja.

“Mari kita tingkatkan rasa sabar dan saling pengertian.

“Di tengah situasi yang melelahkan akibat cuaca ekstrem, tidak semua perbedaan pendapat atau kesalahan kecil harus direspons dengan kemarahan,” katanya.

WHO menyarankan masyarakat mengurangi aktivitas berat pada waktu terpanas, mencari tempat teduh atau sejuk, mengenakan pakaian ringan, dan minum air secara teratur.

Perhatian lebih diperlukan bagi kelompok yang rentan terhadap panas, termasuk lansia, orang dengan penyakit tertentu, serta pekerja yang banyak beraktivitas di luar ruangan.

Menjaga kenyamanan tubuh menjadi langkah praktis untuk mengurangi beban akibat panas. Dalam berkomunikasi, Suko menekankan pentingnya kesabaran dan saling memahami ketika kondisi fisik sedang melelahkan. ***

Pos terkait

Tinggalkan Balasan