Cegah Asap Karhutla, Dosen Unair Tekankan Pembasahan Gambut

Kebakaran hutan
Ilustrasi kebakaran hutan. (BNPB)

Pembasahan gambut perlu menjangkau lapisan bawah untuk menekan kebakaran. Pemantauan asap dan perlindungan warga harus berjalan bersama perbaikan tata kelola lahan.

Penanganan kabut asap tidak cukup mengandalkan pemadaman di permukaan. Lahan gambut perlu dijaga tetap basah agar api tidak terus menjalar dan menghasilkan asap dari bawah tanah.

Dosen Teknik Lingkungan Universitas Airlangga, Danar Arifka Rahman, menekankan pentingnya pembasahan ulang melalui sekat kanal, sumur bor, dan pompa air.

Pemadaman, menurut dia, harus menjangkau lapisan gambut yang terbakar. Api yang tidak terlihat di permukaan masih dapat menjadi sumber asap selama berminggu-minggu.

Bacaan Lainnya

Pandangan tersebut sejalan dengan penjelasan FAO mengenai pembasahan gambut, yakni menaikkan kembali muka air pada lahan yang telah dikeringkan untuk membantu memulihkan kondisinya.

Mengapa Asap Dapat Bergerak Jauh?

Danar menjelaskan, pergerakan asap dipengaruhi angin, kestabilan atmosfer, dan karakteristik kebakaran gambut. Minimnya hujan membuat pencemar lebih sulit tersapu dari udara.

“Pada musim kemarau, angin monsun tenggara membawa asap dari Sumatra dan Kalimantan ke arah barat laut, menuju Semenanjung Malaysia, Singapura, atau sebagian Jawa,” paparnya, dikutip Selasa, 27 Oktober 2026.

Arah sebaran pada suatu kejadian tetap perlu diperiksa menggunakan data angin dan pengamatan terbaru. Pola musiman tidak otomatis menggambarkan perjalanan setiap kepulan asap.

Pembakaran gambut yang berlangsung lambat menghasilkan partikel halus, termasuk PM2,5. Ukurannya yang kecil turut memengaruhi lamanya partikel bertahan di udara.

“Partikelnya sangat kecil, sehingga massanya ringan dan pengendapannya ke bawah sangat lambat.

“Api gambut juga bisa menjalar di bawah permukaan selama berminggu-minggu, sehingga sumber asapnya terus ada dan memproduksi debu secara berkelanjutan,” jelasnya.

Topografi juga berpengaruh. Pegunungan dapat menghambat aliran udara, sedangkan lembah atau cekungan menjadi tempat penumpukan asap ketika kondisi atmosfer mendukung.

Danar menyebut El Niño dapat memperpanjang kemarau dan mengeringkan gambut. Dalam keadaan itu, pengelolaan air menjadi semakin penting untuk menekan kerentanan lahan terhadap kebakaran.

Pergerakan asap dapat diperkirakan dengan pemodelan. Salah satunya HYSPLIT, yang memadukan informasi kebakaran dan cuaca untuk memperkirakan sebaran serta konsentrasi asap.

“Akurasi terbaik biasanya diperoleh dengan menggabungkan model cuaca resolusi tinggi, data titik panas satelit, dan pengamatan lapangan.

“Namun, alat pemantau kualitas udara saat ini umumnya baru menampilkan tingkat pencemaran tanpa membedakan komposisi kimia spesifik dari biomassa kebakaran secara real-time,” imbuhnya.

Perlindungan Warga dan Perbaikan Pengelolaan Lahan

Untuk melindungi masyarakat, Danar mendorong penyediaan ruang aman berudara bersih di fasilitas publik, termasuk sekolah dan rumah sakit.

Ventilasi gedung yang dilengkapi penyaring udara juga menjadi bagian perlindungan. Langkah ini perlu berjalan bersama pengendalian sumber asap, bukan menggantikannya.

Dalam jangka panjang, teknologi pemantauan harus terhubung dengan respons lapangan. Deteksi dini perlu diikuti pemeriksaan lokasi dan penanganan sebelum kebakaran meluas.

“Teknologi yang paling menjanjikan adalah restorasi dan pembasahan gambut permanen, dipadukan dengan pemantauan satelit dan kecerdasan buatan untuk deteksi dini.

“Namun, teknologi hanya akan efektif bila ditopang penegakan hukum, tata kelola lahan yang jelas, dan kerja sama regional antarnegara,” pungkasnya.

Pembasahan gambut dan perlindungan warga merupakan dua pekerjaan yang saling melengkapi. Yang pertama menekan sumber kebakaran, sedangkan yang kedua mengurangi paparan ketika asap terjadi. ***

Pos terkait

Tinggalkan Balasan