Rumah Syukur pertama di Gorontalo sah menjadi bagian dari proyek gotong royong nasional OPSHID kala proses pembangunannya resmi dimulai pada Senin, 29 September 2025. Ditandai dengan penanaman Batu Syukur.
Puluhan pasang mata di Jl. Usman Isa, Kelurahan Pilolodaa, Kota Gorontalo, menyaksikan prosesi yang sederhana namun sarat makna. Beberapa batu berbungkus kain warna hijau, yang disebut Batu Syukur, di tanam di area yang baru saja diratakan.
Prosesi itu serupa dengan peletakan batu pertama, sebagai tanda dimulainya pembangunan Rumah Syukur Layak Huni Shiddiqiyyah Fatchan Mubina (RSLHSFM).
Rumah yang dibangun ini milik Hani Abdul (69), janda tua yang selama ini tinggal di bangunan reyot. Tidur di ranjang reyot, hidup dalam keterbatasan. Namun Senin (29/9), ia menjadi pusat perhatian: rumahnya akan diganti rumah baru, layak, dan gratis.
Peletakan Batu Syukur dipimpin wali talkin Shiddiqiyyah, Haryo Sumantri. Tampak hadir Wakil Wali Kota Gorontalo, Indra Gobel; Kepala Dinas Perkim, Heru Zulkifli; Abdil Karim yang mewakili Kecamatan Kota Barat; Warni yang mewakili Lurah Pilolodaa; dan perwakilan Polsek Kota Barat.

Prosesi berjalan penuh khidmat. Satu per satu batu diturunkan ke pondasi, seakan meletakkan dasar bagi kehidupan baru.
“Targetnya sebelum 28 Oktober sudah selesai. Tepat untuk memperingati Hari Sumpah Pemuda,” kata Iden Gobel, relawan OPSHID yang jadi motor tunggal pembangunan di Gorontalo.
“Untuk pengerjaan sampai tahap pondasi,” kata Iden, “bakal dikerjakan oleh pekerja lokal. Nantinya juga akan didatangkan tenaga ahli pembangunan dari Jakarta maupun Jombang.”
Kehadiran rumah ini istimewa. Bukan hanya karena Gorontalo tidak memiliki basis OPSHID, melainkan juga karena rumah ini menjadi unit ke-97 yang dibangun serentak di 17 provinsi. Angka 97 bukan kebetulan—ia melambangkan usia Sumpah Pemuda dan lahirnya Indonesia Raya.





