Iden Gobel, satu-satunya OPSHID di Gorontalo, pulang dari perantauan di Jakarta untuk memimpin pembangunan. “Bukan nekat, tapi tergerak. Gorontalo masih kota termiskin ke-4 di Indonesia. Semoga dengan rumah ini, kampung halaman mendapat barokah,” ujarnya.
Di balik seremoni itu, tersimpan pesan simbolis. Batu yang ditanam bukan sekadar pondasi fisik, melainkan pondasi solidaritas nasional. Program ini membuktikan gotong royong mampu menembus batas jumlah anggota. Bahkan satu orang pun bisa menghadirkan perubahan besar.
Hani Abdul sendiri tampak haru. “Saya tidak menyangka. Hidup saya akan berubah. Terima kasih,” ucapnya lirih.
Bagi OPSHID, setiap rumah yang dibangun adalah simbol perlawanan terhadap kemiskinan dan ketidaklayakan. Dari Bojonegoro hingga Gorontalo, setiap Batu Syukur menjadi pengingat bahwa 97 tahun setelah Sumpah Pemuda, semangat persatuan itu masih nyata.
Rumah Syukur di Gorontalo akhirnya berdiri bukan hanya untuk seorang janda, tapi juga untuk menegaskan: solidaritas adalah rumah kita bersama.***





