Surabaya menegaskan pasar tradisional tetap jadi urat nadi ekonomi rakyat. Pemkot mengelola 77 pasar lewat dua jalur berbeda. Tahun ini 13 pasar direvitalisasi, tahun depan berlanjut.
Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya menegaskan pasar tradisional tetap menjadi penopang utama perekonomian rakyat. Pasar bukan sekadar pusat transaksi, tapi juga motor pertumbuhan ekonomi Kota Pahlawan.
Kepala Bagian Perekonomian dan Sumber Daya Alam Surabaya, Vykka Anggradevi Kusuma, menjelaskan pengelolaan pasar terbagi dua. Sebagian berada di bawah PD Pasar Surya sebagai BUMD, sebagian lain dikelola Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah, dan Perdagangan (Dinkopumdag).
“Kalau Bagian Perekonomian itu sebagai pembina dari BUMD. Karena PD Pasar merupakan salah satu BUMD milik Pemkot, maka PD Pasar Surya di bawah pembinaan kami,” kata Vykka, Senin (29/9).
Ia menegaskan pengelolaan pasar tidak hanya soal pendapatan asli daerah (PAD), tapi juga perputaran ekonomi rakyat. “Ekonomi UMKM mikro itu penting karena mereka fondasi pertumbuhan ekonomi Surabaya,” ujarnya.
Surabaya mencatat pertumbuhan ekonomi 5,24 persen pada triwulan II, di atas rata-rata provinsi maupun nasional. Namun, Vykka menilai penguatan ke depan tidak hanya lewat pasar, tapi juga pariwisata.
13 Pasar Direvitalisasi
Hingga kini ada 13 pasar yang sedang direvitalisasi. Tahun depan, pembangunan dilanjutkan bertahap. “Pasar Keputran Selatan akan dibangun baru, khusus untuk ayam. Supaya perputaran ekonominya lebih fokus,” jelas Vykka.
Revitalisasi juga menyasar pasar strategis seperti Pasar Blauran dan Pasar Tunjungan. “Konsepnya, PD Pasar akan berubah jadi Perseroda. Jadi seperti PT, bisa bekerja sama dengan investor, tidak hanya mengandalkan penyertaan modal,” tambahnya.
Dua Jalur Pengelolaan
Kepala Dinkopumdag Surabaya, Febrina Kusumawati, menyebut pihaknya mengelola 13 pasar, antara lain Pasar Nambangan, Sememi, Gunung Anyar, dan Dukuh Menanggal. “Selain itu, ada pasar tradisional yang dikelola swasta maupun LPMK,” katanya.
Untuk menghidupkan pasar, Dinkopumdag rutin menggelar kegiatan kolaboratif. “Termasuk pasar murah yang selalu kita kolaborasi. Itu untuk menghidupkan situasi pasar,” ujar Febri.
Ia menilai tantangan utama ada pada kenyamanan pembeli. “Fokus kami meningkatkan kenyamanan pembeli dan pedagang agar betah di pasar. Itu bagian dari tugas kami berkomunikasi dengan pedagang,” imbuhnya.
64 Pasar di Bawah PD Pasar
Direktur Utama PD Pasar Surya Surabaya, Agus Priyo, menyebut pihaknya mengelola 64 pasar aktif dengan 12 ribu pedagang. Dari jumlah itu, hanya 10-15 pasar yang kondisinya baik, sementara sekitar 20 pasar butuh perhatian.
“Pasar besar seperti Tambahrejo, Kapasan, Genteng, Wonokromo, perputaran ekonominya sudah sangat bagus. Yang perlu atensi adalah pasar-pasar menengah,” kata Agus.
Sejumlah pasar memiliki kekhasan tematik, seperti Pasar Bunga Kayoon yang jadi jujukan wisatawan asing, Pasar Blauran dengan jajanan khas, Pasar Pabean dengan ikan segar, hingga Pasar Genteng dengan elektronik.
Namun, tantangan tetap ada. “Prasarana dan sarana harus ditingkatkan. Revitalisasi kunci. Pasar Keputran Selatan nanti jadi bangunan baru, Pasar Kembang akan bersih sekali setelah penataan,” jelasnya.
Agus menutup, “Harapannya pasar lebih baik, pelayanan meningkat, sarana dan prasarana lebih layak. Kami ingin pedagang dan pengunjung lebih nyaman untuk menggerakkan ekonomi.”***





