Bunga Bank Naik, BBM Mahal Tekan Daya Beli

Kenaikan BI Rate menjadi 5,75 persen dan lonjakan harga Pertamax ke Rp16.250 per liter menambah tekanan terhadap daya beli masyarakat. Ekonom memperingatkan kelas menengah rentan menghadapi beban cicilan dan biaya hidup yang semakin berat.
BI Rate naik ke 5,75 persen saat harga Pertamax melonjak. Ekonom memperingatkan kelas menengah rentan makin tertekan.

Daya beli masyarakat menghadapi tekanan baru setelah Bank Indonesia menaikkan BI Rate menjadi 5,75 persen dan harga Pertamax naik dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter.

Bank Indonesia menyatakan kenaikan suku bunga ditempuh untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah serta menjaga inflasi 2026 dan 2027 tetap dalam sasaran 2,5±1 persen.

Bacaan Lainnya

“Kenaikan ini sebagai langkah lanjutan untuk makin memperkuat stabilisasi nilai tukar Rupiah,” tulis Bank Indonesia dalam siaran pers, Kamis, 18 Juni 2026.

Namun, kebijakan itu datang saat masyarakat baru menghadapi lonjakan harga BBM non-subsidi. Pertamina Patra Niaga menaikkan harga Pertamax mulai 10 Juni 2026, sementara Pertamax Green 95 menjadi Rp17.000 per liter.

Kelas Menengah Terpukul

Direktur Kebijakan Publik CELIOS Media Wahyudi Askar menilai kenaikan Pertamax tidak hanya membebani kelompok kaya. Menurut dia, kelas menengah rentan juga ikut terdampak.

“Pengguna Pertamax 92 bukan cuma orang kaya, tapi juga kelas menengah rentan. Ada pekerja, pegawai, guru, ojol, dan jutaan kelas menengah yang selama ini memilih BBM yang lebih baik untuk kendaraannya,” ujar Media, Rabu, 10 Juni 2026.

Ia menilai pilihan masyarakat kini semakin sempit: membayar BBM lebih mahal atau beralih ke Pertalite. Peralihan itu berisiko menambah tekanan pada konsumsi BBM bersubsidi.

Direktur Eksekutif CELIOS Bhima Yudhistira juga menilai kenaikan harga Pertamax menunjukkan ruang fiskal pemerintah makin terbatas.

“Pemerintah sudah kehabisan amunisi menjaga harga energi tetap stabil,” kata Bhima, Rabu, 10 Juni 2026.

Konsumsi Jadi Titik Rawan

Tekanan menjadi lebih sensitif karena konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang utama ekonomi. BPS mencatat ekonomi Indonesia triwulan I-2026 tumbuh 5,61 persen, salah satunya ditopang konsumsi masyarakat yang tetap terjaga.

Kenaikan bunga berpotensi membuat cicilan kredit kendaraan, kredit pemilikan rumah, dan modal kerja usaha menjadi lebih mahal. Sementara kenaikan BBM dapat menambah ongkos transportasi dan distribusi barang.

Dampaknya dapat terasa pada sektor ritel, otomotif, properti, dan jasa. Masyarakat cenderung menunda belanja sekunder ketika pendapatan lebih banyak terserap untuk kebutuhan pokok, cicilan, dan energi.

Pemerintah menilai dampak kenaikan Pertamax terhadap inflasi relatif terbatas karena BBM jenis itu tidak banyak digunakan angkutan umum dan angkutan barang. Namun, ekonom memperingatkan efek psikologisnya tetap dapat menekan belanja kelas menengah.

Kini, pemerintah dan Bank Indonesia menghadapi dilema: menjaga stabilitas rupiah tanpa membuat konsumsi rumah tangga kehilangan tenaga.

Jika tekanan bunga dan energi berlanjut, daya beli masyarakat berisiko menjadi titik lemah ekonomi Indonesia pada paruh kedua 2026.***

Pos terkait

Tinggalkan Balasan