Uwi Dinilai Lebih Tangguh Hadapi Kemarau, Tak Bergantung Irigasi Seperti Padi

Di saat sawah mengering dan padi gagal panen, uwi tetap menunggu di dalam tanah—diam, tetapi bertahan.

Ketika harga pupuk melonjak atau distribusi tersendat, biaya produksi petani meningkat. Uwi berada di luar ketergantungan tersebut. Tanaman ini diperbanyak dari potongan umbi, dirawat dengan pengetahuan lokal, dan tidak membutuhkan input industri yang tinggi.

Dalam situasi krisis ekonomi atau gangguan logistik, uwi tetap dapat ditanam dan dipanen dengan sumber daya setempat. Kondisi ini menjadikannya pangan cadangan berisiko rendah bagi masyarakat.

Jejak Sejarah Pangan Nusantara

Sejumlah catatan sejarah dan etnografi menunjukkan bahwa sebelum sawah irigasi berkembang luas, masyarakat Nusantara mengandalkan beragam umbi-umbian. Di Jawa, uwi dan umbi lain menjadi cadangan pangan saat paceklik.

Bacaan Lainnya

Di wilayah Nusa Tenggara Timur, uwi bahkan dimuliakan dalam ritual adat sebagai simbol kehidupan. Sementara di Maluku dan Papua, umbi menopang kebutuhan pangan tanpa ketergantungan pada sawah.

Dominasi beras menguat seiring berkembangnya sistem administrasi negara modern. Sawah dinilai lebih mudah diukur, dicatat, dan dikelola secara seragam. Dalam proses itu, umbi-umbian perlahan tersisih dari kebijakan pangan.

Uwi tidak tergeser oleh alam, melainkan oleh arah pembangunan.***

Pos terkait