Uwi dipromosikan sebagai pangan lokal tahan krisis. Berbeda karakter dan fungsi dari ubi yang lebih populer.
Ketahanan pangan nasional kembali diuji di tengah krisis global yang belum mereda. Ketergantungan pada impor pangan membuat Indonesia berada dalam posisi rentan ketika konflik geopolitik, gangguan iklim, dan fluktuasi harga dunia terjadi bersamaan.
Perang Rusia–Ukraina sejak 2022 menjadi contoh nyata. Pasokan gandum, pupuk, dan energi terganggu. Harga pangan melonjak. Negara pengimpor, termasuk Indonesia, terdampak langsung.
Situasi ini memunculkan kembali pertanyaan mendasar. Mengapa pangan lokal belum menjadi fondasi utama ketahanan nasional?
Uwi Did dorong sebagai Jawaban Konkret
Jawaban itu mulai muncul dari tingkat komunitas. Di Jombang, Jawa Timur, Pemuda Shiddiqiyyah Front Ketuhanan Yang Maha Esa (OPSHID FKYME) bersama Persaudaraan Cinta Tanah Air (PCTA) mendorong penanaman uwi ungu (Dioscorea alata).
Dalam Rapat Kerja Nasional OPSHID 2025, organisasi ini menargetkan penanaman minimal 10 hektare uwi di setiap kabupaten dan kota. Target tersebut disusun sebagai langkah sistematis membangun basis pangan dari bawah.
“Ketergantungan pada impor membuat bangsa ini rapuh,” kata Mulyono, Sekretaris DPP OPSHID, usai Rakernas 2025. “Pangan lokal adalah fondasi kemandirian.”
Uwi sendiri bukan tanaman baru. Umbi ini telah dibudidayakan ratusan tahun di Nusantara, jauh sebelum beras menjadi pangan dominan.
Uwi Berbeda dari Ubi
Meski sama-sama umbi, uwi berbeda dengan ubi yang lebih dikenal masyarakat. Ubi jalar (Ipomoea batatas) tumbuh merambat di tanah dan dipanen relatif cepat. Uwi justru tanaman merambat dengan umbi besar yang berkembang di dalam tanah dalam waktu lebih panjang.
Dari sisi ketahanan, uwi memiliki keunggulan. Umbinya dapat dibiarkan di tanah berbulan-bulan tanpa cepat rusak. Sifat ini membuat uwi berfungsi sebagai “lumbung hidup” saat krisis pangan.
Ubi lebih cocok untuk panen cepat dan konsumsi harian. Uwi dirancang alam untuk cadangan jangka panjang. Dua fungsi yang berbeda.
Secara gizi, uwi mengandung karbohidrat kompleks dengan indeks glikemik lebih rendah dibanding banyak varietas ubi. Uwi juga berpotensi diolah menjadi tepung sebagai substitusi terigu, komoditas yang masih sangat bergantung pada impor gandum.
“Uwi punya nilai strategis, bukan sekadar pangan alternatif,” ujar Izzul Hasin dari Departemen Ketahanan Pangan OPSHID. “Ia tahan hama, minim pupuk sintetis, dan cocok untuk kondisi krisis.”
Dari Pangan Rakyat ke Agenda Nasional
Dorongan menanam uwi tidak berhenti pada diversifikasi menu. Ia diposisikan sebagai upaya menekan risiko nasional ketika harga pangan global bergejolak.
Sebelum beras menjadi dominan, masyarakat Nusantara menggantungkan hidup pada umbi-umbian. Fakta historis ini kembali diangkat sebagai rujukan kebijakan pangan masa depan.
Namun, gerakan komunitas memiliki keterbatasan. Tanpa dukungan kebijakan—mulai dari riset, insentif budidaya, hingga akses pasar—uwi berpotensi tetap berada di pinggiran sistem pangan nasional.
Di sisi lain, agenda pemerintah tentang swasembada dan diversifikasi pangan membuka ruang kolaborasi. Uwi dapat masuk sebagai komponen strategis, bukan sekadar pelengkap.
Ajakan yang Kian Mendesak
Menanam uwi bukan nostalgia. Ia merupakan pilihan rasional menghadapi ketidakpastian global yang terus berulang.
Ketika krisis pangan menjadi isu lintas negara, pertanyaannya semakin jelas. Seberapa lama Indonesia ingin menunda pembangunan cadangan pangan dari tanahnya sendiri?***





